Everything that brings JOY usually comes with PRICE

Assalamu’alaikum,

Saya selalu merasa bahwa banyak berinteraksi dengan orang lain dari berbagai macam latar belakang, karakter, sudut pandang, ketertarikan terhadap sesuatu, dan bahkan kepercayaan akan (sedikit banyak) membantu saya untuk bertumbuh, berkembang, mengukuh, lalu menguat.

Saya percaya Allah selalu menunjukkan jalan selama kita mengeja kehidupan. Maka kita harus berani memulai langkah, terus berjalan, beranjak dewasa bersama mereka yang berada di dekat kita, menjaga mereka yang mungkin memberi banyak warna (senyum, bahagia, tangis) pada kita, sampai kita menemukan makna bahwa hidup bahagia adalah saat kita punya arti bagi orang lain, saat keberadaan kita mampu membuat orang lain lebih baik, terlebih lagi adalah saat kita mampu menerima diri sendiri sepenuhnya tanpa banyak bertanya dan menyangsikan.

Suatu siang beberapa saat lalu, Allah Yang Maha Bijaksana memberi saya satu lagi kesempatan untuk mengetahui, lebih mengerti, belajar memaknai dengan objektif, dan mampu sedikit memberi manfaat untuk orang lain (InsyaAllah). Dimulai dengan sebuah pernyataan (baca: curhat :D) dari seorang teman yang saya sayangi dan saya perdulikan, seperti ini : “Gue nggak pernah nyesal sama apa yang gue jalani sekarang, tapi kadang ngerasa gue pengen terjun ke laut aja terus ngilang. Gue capek banget.”

Saya diam..

Beberapa detik. Ah tidak, beberapa menit. Saya perkirakan lima belas menit.

Saya menjawabnya, “Diving maksud lu? Wakatobi, yuk!” Saya tahu ini konyol. Bukan saya tidak mengerti konteks dari kalimatnya. Tapi saya lebih tahu, saat seseorang mengungkapkan kekesalan, kesedihan, keputusasaan…yang ingin dia dengar saat itu bukan kalimat – kalimat bijak panjang lebar kok. Kadang dia hanya perlu di dengar. Kadang dia ingin ada seseorang yang mengatakan padanya bahwa itu hanya suatu kondisi ‘konyol’ sesaat karena hidup sedang memberi dinamikanya yang sebentar lagi akan berlalu. Salah satu cara termudah dengan bercandaan garing seperti saya tadi mungkin.

Dia tertawa. Saya menangkap kegetiran. Rasa lelah yang amat sangat. Lalu setelah itu ada sedikit kelegaan, dia malah berbalik mencandai saya.  “Bukannya lu benci laut? Kata lu kalau main ke laut bisa kebakar matahari terus alergi, gosong, item…hahahaha.” Dia tertawa lagi. Lebih lepas. Disinilah saya mulai memberinya sedikit pandangan sesuai pengalaman saya, sejauh yang pernah saya alami, yang mungkin selama ini belum pernah ‘menyentuhnya’ sampai – sampai kalimat ‘ingin terjun ke laut’ itu terpikir olehnya.

Dunia berputar. Itu benar adanya. Dalam beberapa poros (hal dalam kehidupan) bahkan terlalu cepat perputarannya. Tapi inilah hidup, bukan? Allah telah menentukan waktunya. Itulah mengapa ada yang di sebut masa lalu, saat ini, masa akan datang. Karena perputaran itu. Kita hanya perlu mengikuti putarannya agar tidak tergerus. Yang sedang terjadi biarlah berjalan dengan sendirinya. Setiap detik akan membawa kita melangkah dan menua, suka ataupun tidak. Kita memang harus mengambil keputusan dalam hidup ini. Tidak mudah untuk dilakukan, namun tidak ada alasan yang cukup kuat untuk berhenti. Hidup kadang meminta kita mengalah, tapi tidak pernah memaksa kita menyerah.

Pernahkah mendengar ucapan – ucapan ini :

•  MAN JADDA WA JADA (Siapa yang bersungguh – sungguh maka dia akan berhasil)

•  MAN SHABARA ZHAFIRA (Siapa yang bersabar maka dia akan beruntung)

•  MAN SAARA’ALADDHARBI (Mereka yang berjalan pada jalannya akan sampai pada tujuan)

Ketiga ucapan itu bukan sekedar ucapan bagi saya, dan saya ingin semua orang yang saya sayangi pun turut merasakan kekuatan dari ucapan – ucapan itu. Saya selalu menyebutnya 3 MANTRA SAKTI. 😀

Sejauh apa kita memahami arti bersungguh – sungguh? Bersungguh – sungguh tidak hanya membutuhkan tekad dan keseriusan, lebih dari itu memerlukan konsistensi, kesabaran sampai akhir. Seperti kebaikan yang harus selalu kita pupuk agar senantiasa tertanam dalam hati dan berkelanjutan.

Kesabaran  yang membedakan mereka yang hidup bahagia dan yang tidak.  Mungkin banyak yang bersungguh – sungguh, tapi sedikit yang bersabar dan konsisten. Maka bersabarlah. Sabar di atas kesabaran. Jangan katakan “Sabar pun ada batasnya.” Tidak! Sabar tidak pernah berbatas. Saat berbatas, itu sudah tidak sabar. Allah senantiasa mencintai dan bersama dengan mereka yang sabar. Ketika kita berhenti bersabar, kita mengakhiri kebersamaan dengan Allah. Sanggupkah kita?

Lalu apa yang bisa membuat kita terus bersabar? Selain harus punya energi yang besar, berjalanlah sesuai jalan-Nya. Allah azza wa jalla yang menciptakan bahagia, ketenangan, kedamaian.  Dia yang akan memudahkan semua yang kita kerjakan, yang kita lalui, dimana kita akan merasa begitu menikmati semuanya tanpa terkecuali. Bergantunglah hanya pada-Nya. Berusaha hanya untuk meraih kemuliaan dari-Nya. Meyakini pilihan-Nya untuk kita adalah yang terbaik.

Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. (QS. 63 : 3)

Mudahkah? Tidak juga! Tapi biasakanlah. Bagaimana caranya? Hanya terus melangkah kepada kebaikan. Biasa karena terbiasa, bukan? Tidak perlu menghitung detik demi detik, biar berjalan apa adanya. Sebagian akan terisi canda bahagia, tawa nestapa, sedikit air mata pembelajaran, yang akan membuatnya lengkap dan utuh. Saat benar – benar letih, beristirahatlah, bersandar pada-Nya, ada malam yang Dia ciptakan, kan. Hanya 24 jam per hari, pasti akan berlalu. Dan jangan berpikir semua sia – sia. Jangan menghitungnya seperti seolah ini matematika. Setiap tetes air mata yang jatuh, Allah melihatnya. Setiap rasa sesak di dada, Allah mendengarnya. Setiap berat beban ataupun karunia yang diberikan pada kita, itu semua sudah di atur dengan kasih sayangnya yang besar dan sempurna. Allah maha tahu keperluan kita, juga maha tahu keyakinan kita. Semakin kita tidak berharap selain dari-Nya, semakin akan terpenuhi dan tercukupi.  Sibuk mensyukuri nikmat terasa lebih ringan daripada sibuk dengan keinginan. Itu yang saya rasakan betul.

Tapi terkadang mengapa kita merasa perjalanan ini sangat jauh? Kenapa tujuan kita belum juga terlihat? Mengapa Allah lama mengijabah doa? Tidak sampaikah jeritan hati ini pada-Nya, apa yang salah?

Jangan paksa kapan Allah mengabulkan doa. Jangan heran mengapa Allah abaikan doa. Perjalanan di siang hari yang disinggahi terik matahari menyengat karena Allah ingin kita tahu arti berjuang, dan menebus keinginan.

Hey! Adakah sesuatu yang gratis tanpa kita harus menebusnya? Semua ada harganya!! SETIAP KESENANGAN TENTU PUNYA ‘HARGA’.

Tanyakan seperti apa tubuh kita bicara, seperti apa hati kita berkata. Tanyakan pada diri kita :

  1. Saat sepertiga malam terakhir disediakan Allah untuk kita berkesempatan bermunajat dalam tahajjud, bersujud di ujung sajadah…dimana kita saat itu? Tertidur pulas atau beria-ria di club malam?
  2. Apa kita dengan sengaja memepetkan sholat subuh dengan waktu dhuha? Atau lebih parah justru masih berselimut?
  3. Saat dzuhur tiba, apa kita sholat dari sisa waktu makan siang kita? Atau justru terlewat karena mendahulukan pertemuan bisnis?
  4. Apa yang kita kerjakan di antara waktu ashar dan maghrib saat malaikat turun menabur doa? Pernah sedang berdzikir menyebut nama-Nya? Atau sibuk mengejar dunia?
  5. Apa Al – Qur’an kita hanya tergeletak berdebu sebagai pajangan?
  6. Apa harta kita menumpuk tidak terbagi kepada mereka yang membutuhkan?
  7. Pernahkah kita beramal baik tanpa ada sedikit saja butir kesombongan dalam hati?
  8. Sudahkah kita saling memperdulikan dan menyayangi sesama tanpa ada maksud dan tujuan tertentu?
  9. Kita gunakan untuk apa kepintaran kita? Apa yang lebih banyak kita dengar? Kemana kaki melangkah setiap harinya?
  10. Apa kita berkeluh kesah hanya karena sepatu lusuh? Sedang disana banyak mereka yang tanpa kaki tapi tetap bersyukur utuh.
  11. Ibadah Umroh dan Haji kita bertujuan apa? Memutihkan tumpukan dosa?

Banyak dan banyak lagi yang perlu kita pertanyakan kepada hati ini. Sudah pernah bertanya pada hati? Saya selalu menangis betapa saya ‘miskin’ kebaikan. Betapa saya hanya banyak berharap . Betapa saya sombong merasa sudah cukup beribadah.

Saya ingin bisa bersyukur penuh, mencintai setiap butir berkah, nikmat, rejeki  yang Allah berikan kepada saya agar tidak Allah cabut hidayah dalam hati ini. Saya juga berharap semua orang yang saya cintai bisa sama – sama belajar melakukannya.

 Yaa Allah,

Jagalah kami dari hal – hal yang tidak Engkau sukai. Ikatlah kami dalam cinta untuk saling mengingatkan akan keberadaan dan kewajiban kepada-Mu. Aamiin.

Semoga di setiap obrolan kita dengan teman, sahabat, keluarga, dan siapapun itu…tidak terhambur sia – sia hanya untuk ghibah dan maksiat. Semoga ada pelajaran yang selalu bisa kita tafakuri yang menggiring kita untuk selalu bermuhasabah demi perubahan pada kebaikan sekecil apapun (InsyaAllah).

Salaams & Blessings,

@hubsche_petty

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s