Cerpen: CINTA (BELUM) MATI – II

PROLOG

Winda

Pernah kuakui…

Aku mencintainya setiap hari, setiap aku bernafas.

Aku mencintainya dengan senyum, air mata, dan sepanjang hidupku.

Namun kuketahui cinta tak pernah memberi jalan mudah.

Tak selalu pasti menjanjikan akhir semesra impian.

Dimas

Mungkin aku pernah setia mengirim gerimis melintasi mata dan hatinya.

Membuat kami gagap mengeja semesta kebersamaan, melangkah di antara duri hati.

Sungguh telah kucoba meraihnya, sebelum ia memudar perlahan lalu menghilang.

♥♥♥

PERASAAN ITU

Dimas

Dulu kalau ada orang bilang laki – laki bisa hancur berantakan karena cinta perempuan, gue nggak pernah percaya. Bullshit! Come on man! Perempuan itu untuk dipilih. Pacarin sebanyak – banyaknya selama elo happy. Mereka bilang, gue one of eligible bachelor paling diinginkan di Jakarta (berisik…jangan protes! Ini kata mereka). Tampang keren. Karir mentereng. Kepribadian oke. Smart. Dengan gampang masuk di semua kalangan pergaulan. Bisa jadi mitra sejajar buat perempuan tipe apapun. Lalu, kekurangan gue apa? Damn. Ternyata omongan sama hati gue nggak sinkron. Nggak tahu kenapa gue nggak pernah bisa lepas dari bayang – bayang Winda. Cuma dia yang ada di hati gue. Anjrittt bahasa gue. Stop Dim! Kata – kata barusan itu cuma bisa keluar dari mulut mereka yang terbuai sama lagu – lagu cengengnya D’Masive dan ST12. Masa sih gue secemen itu. Dan ternyata gue memang cemen tentang cinta. Liat aja nih.

“Hai Dim…udah lama?” Winda muncul di hadapan gue persis di saat gue sedang merutuki kecemenan gue. Saat ini jam 06.05 sore. Tepat saat langit Jakarta juga sedang cemen – cemennya menunjukan identitas. Sok misterius. Dibilang masih terang, cahaya matahari sudah hampir tenggelam disapu malam. Dibilang gelap, semburat kuning belum benar – benar pergi seolah nggak rela meninggalkan banyak ketidakpastian yang terjadi di siang hari. Gue dan Winda janjian dinner bareng. Sempat putus komunikasi setelah dia bertunangan dengan Aditya, akhirnya disini kami sekarang, duduk berhadapan di sebuah restoran pasta di Pacific Place.

“Ehm..ba..baru aja kok, Win.” Tuh kan gue cemen. Jawab gitu aja gugup. Oke lah nggak apa – apa dibilang cemen, tapi gue harus jujur, dia cantik luar biasa sore ini. Winda tersenyum sangat manis. Her signature smile. Salah satu yang selalu paling gue sukai dari dia. My head always full of her nice smile-print. Seperti biasa senyumnya itu bikin gue merasa I’m the lucky bastard karena gue tahu Winda nggak pernah tersenyum seperti itu sama siapapun, bahkan sama Aditya. Praaanggg!!! Dia milik Aditya sekarang. Tiba – tiba kenyataan itu muncul jelas di kepala gue. Wake up, Dim!

“Kamu udah sholat, Dim?”

“Oh udah…”

Winda mengangguk. Dan lagi, senyum indah itu mengembang. “You look great!” tiba – tiba gue keceplosan. Gue nggak perduli. Itu jujur.

Thank you…” ujarnya tersipu. Ah, dia makin kelihatan cantik. Tapi kenapa tiba – tiba gue sama dia secanggung ini yah. Siapa sih yang pertama kali bilang, kalau cinta bisa bikin kita terlihat naif bahkan bego? Jenius banget dia. Serius. Tunggu sebentar, apa…cinta? Perasaan itu, yang barusan gue rasain, warna cinta namanya? Emang gue masih cinta sama dia?

“Kok kamu belum pesan apa-apa? Aku pesanin yah. Burger? Pancake with bluberry cheese?” Winda masih inget makanan favorite gue. Gue nggak mungkin nggak senyum, terharu.

“Aku pengen yang beda. Fetucini mushroom sama fruit punch aja.” Gue menolak halus perhatian dia dengan memesan makanan yang nggak biasa. Nggak biasa maksudnya bukan aneh, tapi nggak biasa gue pesan kalau gue lagi makan di resto pasta seperti sekarang. Orang bilang, kita harus bisa memaksa diri kita untuk keluar dari comfort zone kalau mau move on ke keadaan lain yang baru, dan beda. Breakthrough adalah langkah paling tepat keluar dari comfort zone, dengan melakukan hal – hal di luar kebiasaan kita selama itu nggak menyalahi prinsip dan sikap hidup. Seperti yang gue lakukan sekarang, memesan makanan yang beda dari biasanya. Let see, apa gue akan bisa dengan cepat menerima ‘beda’ itu. Termasuk menerima perbedaan status Winda sekarang.

Winda mengerutkan keningnya, tersenyum lagi, dan lalu memesan makanan untuk kami. Dan ah, dia memesan dish yang sama dengan gue.

Hening sesaat. Hanya ada tampang gue yang tegang, senyuman Winda, dan degup jantung kami yang gue yakin sama – sama nggak karuan. Tapi keheningan ini tidak untuk dipecahkan. Gue dan Winda hanya sedang meraba perasaan kami satu sama lain. Sampai akhirnya…

“Makasih Dim kadonya. Aku seneng kamu masih mau nyempatin waktu untuk kasih aku kado.” Entah apa yang merasuki hati dan pikiran gue sekarang. Gue cuma tahu, gue lega Winda nggak marah sama apa yang gue tulis di kartu waktu gue kasih dia kado ulang tahun kemarin. Nggak ada kado sebenarnya. Gue cuma ngasih kartu itu. [1]Kartu yang mewakili seluruh perasaan gue sama dia. Anehnya yang keluar dari mulut gue sekarang adalah…“Nothing special. Don’t take it seriously….” Itulah kebodohan gue. Nama lain dari gengsi gue yang selangit. Jelas – jelas gue sendiri yang secara sadar ngasih kartu itu sama Winda berharap dia tahu apa perasaan gue sebenarnya, dan saat itu gue juga tahu Winda udah dilamar Aditya. Lalu kenapa sekarang gue berusaha menyangkalnya dengan bilang kalau apa yang gue tulis di kartu itu biasa saja. Nggak ada artinya. Stupid you, Dimas! Yang bikin gue menyesal sekarang adalah gue melihat mata itu meredup. Entah kecewa atau sedih. Dan itu lebih nyakitin gue.

“Kapan saat kamu jujur, Dim?” tanya Winda. Suaranya parau.

“Maksud kamu?”

“Aku cuma pengen tahu…kapan saat kamu jujur? Jujur sama diri kamu sendiri, jujur sama aku. Saat kamu nulis kartu itu atau saat ini kamu di depan aku bilang bahwa semua yang kamu tulis di kartu itu nggak ada artinya sama sekali buat kamu?” Winda melanjutkan. Lembut tapi tegas. Sebagai laki – laki dengan segala keegoisannya tentu saja seharusnya dengan mudah gue jawab, kalau apa yang gue tulis di kartu itu memang nggak ada artinya. Hanya sekadar romantisme cengeng gue yang terkadang bisa muncul tiba – tiba kalau menyangkut orang yang pernah gue sayang. Nggak, gue memang masih sayang sama dia. Gue akui itu. Dan perasaan sayang itulah yang mendorong kalimat ini keluar.

“Kalaupun itu semua benar, apa itu masih punya arti sekarang, Win? Masih penting buat kamu?”

“Tolong aku Dim…tolong kamu jawab aja dengan jujur. Apa yang kamu bilang di kartu itu memang yang kamu rasain ke aku?”

“Iya. Apa kesempatan itu masih ada? Kamu tahu apa artinya ini?”

Air mata Winda luruh.

Nice Dim. Ngaku aja paling cinta sama Winda, tapi yang elo lakuin cuma bikin dia nangis.

Winda

Perasaan cinta mengubah semuanya. Aku dan kamu. Kata – kata Dimas terus terngiang menerorku sepanjang malam tadi. Kemarin aku dan dia makan malam bersama. Itulah pertama kalinya aku bertemu lagi dengannya setelah aku resmi bertunangan dengan Aditya. Sebelumnya kami sampat saling kontak lagi via BBM. Aku yang menghubunginya lebih dulu. Setelah membaca kartu pemberian Dimas yang dikirimkannya saat aku ulang tahun, aku terseret pada kebingunganku sendiri.

Jujur, aku tidak ingin dan tidak sanggup menutupi lebih lama apa yang sebenarnya ada dalam hatiku. Tapi sesuatu yang tidak mungkin kuabaikan begitu saja seperti terus menjadi lonceng pengingat untukku. Hai Winda, you engaged to Aditya now! Keras dan jelas. Menahan setiap hasrat.

You’ve gave me a lot of beautiful memories for the complicated of my life, Dim. It couldn’t be easy…buat aku melangkah ke depan tanpa kamu.” Kataku pada Dimas kemarin di sela air mata yang entah kenapa begitu menyebalkan menjebol pertahananku. Dimas mengawasiku, aku berusaha menghindari tatapannya. Hal terbaik yang dapat aku usahakan. Tidak melihat terlalu dalam ke dalam matanya, untuk tidak mencoba menerka apa yang tersirat disana. Aku tidak ingin semakin sakit, bahkan tidak cukup berani untuk mengakui aku memang tidak pernah benar – benar mengenyahkan tatapan itu sebagai satu hal yang memberiku kebahagiaan. Matanya selalu menggetarkanku. His eyes completely stolen my attention, always. Dan aku takut itu. Takut keyakinanku memudar. Takut keputusanku goyah.

“Gimana persiapannya…lancar?” Dimas seperti menantangku dengan pertanyaan itu. Apa maksud dia menanyakan persiapan pernikahanku. Apa ketakutanku sampai padanya. Aku menghirup nafas panjang. Menyalurkan oksigen sebanyak – banyaknya ke dalam paru – paruku. Ah tatapannya seperti biasa menusukku. He just took my breath away.

“Aku yakin ini yang terbaik untuk kita.” Inilah jawaban paling aman. Meski tidak nyambung.

“Aku nggak tanya itu, Win.” Dimas masih terus menatapku. Sepertinya dia sangat tahu, itu akan menembus benteng terkuat yang aku persiapkan untuk berhadapan dengannya. Dia selalu bisa menerka kemana arah pikiranku. Kali ini aku tidak menghindarinya.

“Nggak…nggak…maksudku begini, Dim. Ini…jawaban atas kesempatan yang kamu tanya,” jawabku lebih tenang seakan percakapan ini sudah berakhir.  “Aku menemukan situasi yang selama ini aku cari. Ketenangan. Kepastian. Tolong jangan memotong Dim…!” kulihat Dimas hendak menyela jawabanku. “Pada akhirnya aku banyak berpikir. To be honest, aku nggak pernah meragukan apa yang aku rasakan sama kamu. Apa yang aku rasakan untuk Aditya. Sekeras apapun Aditya berusaha, dia nggak pernah memberiku pengalaman perasaan cinta seperti yang aku rasain sama kamu.” Kurasakan wajahku memanas. Dihatiku muncul sebersit rasa bersalah pada Aditya. Haruskah aku permalukan harga dirinya seperti ini di hadapan Dimas dengan mengatakan semua ini. But, I can’t ignoring the real fact. Mencoba berbohong pada Dimas tentang perasaanku sama mustahilnya dengan aku mencoba memindahkan matahari terbit dari timur ke barat, juga sama melelahkannya seperti seolah mengubah arah perputaran bumi. “Aku hanya nggak mau membuat kita terluka lebih dalam. Aku nggak pernah ragu cinta aku buat kamu sangat kuat. Selalu dan selalu cuma kamu yang bisa bikin hati aku hidup penuh rasa, getaran yang aku nggak pernah tahu muncul dari mana. Tapi aku nggak pernah bisa merasa yakin bahwa kalau kita sama – sama, lalu menikah, dan akhirnya we’ll live happily ever after,” kataku. Ini bukan alasan yang dibuat – buat. Hal inilah yang membuatku berani menerima lamaran Aditya, mengangguk setuju pada rencananya untuk menikah beberapa bulan dari sekarang.  Aditya berhasil membuatku yakin, dan merasa aman akan setiap detail perasaanku.

Kebekuan. Aku merasakan kebekuan menjalari kami. Aku dan Dimas. Sedetik kemudian aku merasa tubuhku menggigil merasakan kengerian. Membeku. Hati dan pikiranku berdebat. Kebekuan di antara aku dan Dimas. Mungkinkah karena antara aku dan dia tidak lagi ada sesuatu.

“Seharusnya aku bilang, kita jangan mencoba untuk mengerti apapun. Just don’t!” seru Dimas akhirnya. “Seharusnya aku tegaskan bahwa apapun yang kita lalui, kemanapun arah yang kita tuju, sedalam apapun rasa sakit itu, sebesar apapun penghalang untuk kita, It doesn’t change anything. Cinta kita akan selalu sama besarnya. Akan selalu kokoh seperti saat kita membangunnya dulu. Tapi kenyataannya perasaan cinta itu sendiri yang mengubah semuanya. Semua yang ada di antara kita…every single thing we had. Mengubah aku dan kamu.”

Oh well, he said it.

♥♥♥

CINTA SAJA CUKUP?

Winda

Apa sih yang dibutuhkan orang untuk berani memutuskan menikah. Apa yang bisa menjadi pijakan setiap pasangan untuk yakin mereka akan sanggup setia pada janji suci pernikahan. Apa cinta cukup? Jawaban idealnya adalah: seharusnya cukup.

Aku terdiam setiap kali pertanyaan – pertanyaan sialan itu diam – diam merobek ketenanganku. Mari kita sedikit menganalisa tentang sekuat apa cinta dapat dijadikan pilar dan menopang segala sisi yang hadir dalam kehidupan pernikahan.

A lasting relationship consist of the 3 C’s : Communication, Commitment, Compromise. Sejauh yang aku lihat, ketahui, dan yakini, yang dibutuhkan pernikahan untuk berjalan tenang adalah sikap respek satu sama lain, komunikasi yang baik, kompromi, dan juga komitmen. Semua elemen itu tentu hanya bisa dilahirkan oleh cinta. Jadi, benar adanya bahwa cinta saja cukup untuk memulai langkah ke dalam belantara pernikahan. Kenapa aku menyebutnya belantara. Karena pernikahan sangatlah luas dan panjang perjalanannya, sebagaimana dibutuhkan hati yang sangat lapang untuk mengawalnya. Begitu dalam cobaannya, sedalam seharusnya kesabaran terus digali disana. Dan teramat tinggi kesuciannya, sehingga betul – betul diperlukan rasa syukur tiada batas untuk dapat mengerti arti suci itu. Tapi cinta manusia seringkali egois. Memberi banyak kebimbangan dibanding pertimbangan. Cinta menggebu sulit hadir dengan keindahan utuh. Disinilah akhirnya hati tempat bernaungnya cinta bertarung dengan logika. Ah, nyatanya cinta saja tidak cukup.

Hai, beautiful,” Aditya tersenyum lebar begitu masuk ke dalam rumah. Aku memang sedang menunggunya di ruang tamu. Hari ini kami ada janji meeting lagi dengan salah satu Wedding Planner terkenal di Jakarta. Atas beberapa pertimbangan akhirnya aku dan Aditya memutuskan untuk memakai jasa Wedding Planner milik mbak Dina. Mbak Dina adalah isteri dari kenalanku. Aku dan suaminya pernah beberapa kali terlibat kerja sama. Jadi aku merasa akan sangat leluasa untuk berbicara mengenai konsep pernikahan yang aku inginkan dengan seseorang yang tidak terlalu asing bagiku. Memang akan sangat diperlukan kesabaran dan pengertian ekstra dari pimpinan Wedding Planner tersebut jika berhadapan dengan klien sepertiku yang sok perfeksionis.

“Ibuku setuju kita pakai adat Palembang nanti saat akad nikah maupun resepsi, sesuai keinginan kamu, sayang.” Aditya terus mengembangkan senyumnya selama kami dalam perjalanan menuju kantor Wedding Planner yang akan kami datangi. Sedangkan aku lebih banyak diam.

“Oh, great!” balasku tersenyum pada Aditya.

Have I told you? Aku orang yang sedikit dominan. Sikap dominan itu kugunakan untuk memastikan, lebih seringnya memaksakan, agar semua yang aku inginkan akan terlaksana. Seperti upacara adat yang akan kami gunakan saat menikah nanti. Sudah kukatakan pada Aditya sejak jauh hari, mama, dan tentu saja aku, menginginkan adat asal daerahku yang nanti akan dipakai dalam setiap prosesi pernikahan kami. Dan Aditya langsung mengiyakan tanpa bertanya dulu pada orang tuanya. Entah apa yang Aditya utarakan pada keluarganya, sampai seperti yang Aditya katakan tadi ibunya setuju denganku. Can you get one point again? Alasan kenapa aku setuju menikah dengannya. Aditya is trying very hard to makes me smile all the time. Aditya hampir selalu takluk pada inginku. Kecuali satu hal, apapun yang berhubungan dengan Dimas, Aditya akan sangat marah.

Ada satu, katakanlah peraturan tersirat, di antara dua orang yang menjalin cinta. Saat kata cinta terucap, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus melepaskan setengah ego kita untuk menyerah pada keinginannya, berpijak pada hal – hal yang akan membahagiakannya. Dulu, saat bersama Dimas, aku melepaskan lebih dari setengah egoku untuk menyenangkan Dimas, untuk bersabar pada kehendaknya. Bahagia? Tentu. Tawanya bahkan senyumnya akan cukup memberiku kesenangan. Aku kecanduan itu. Entah apa, saat itu inilah yang kusebut cinta saja cukup mengenyangkan hati.

Bersama Aditya, sepanjang kebersamaan kami, Aditya menahan hampir semua egonya untuk menyenangkanku. Dia selalu ada menjadi tangga untuk naik turunnya perasaanku. Aku tidak tahu benar apa yang dirasakannya saat menghadapi aku yang sulit, tapi yang kutahu pasti cuma dia yang tetap tersenyum hangat memeluk emosiku yang kadang tak terkontrol. Sometimes I feel like he had to work very hard to win my heart. Tanpa sadar aku terbiasa dengan itu. Nyaman dengan kondisi itu. Kondisi yang siap menampung pedih dan bahagia bersamaan, membentukku, menguatkanku, hari ke hari. Aditya seperti menciptakan aku yang baru. He’s creating me, creating new world for me. So, I think he deserves to beloved by me.

Would I say that I love him?

“Kita udah sampai kantornya mbak Dina nih, Win.” “Win…Winda…”

“Udah sampe yah…” Huh! Aku menghembus nafas.

 

Dimas

Gue adalah orang yang menolak ide setia pada cinta seseorang seumur hidup. Bodoh saja gitu rasanya mengagungkan cinta seperti itu. Memang apa yang sudah dilakukan cinta? Kalau dia pergi dari hidup kita, ya artinya memang nggak cinta lagi. That’s it. Simple.

Ingat kan kemarin ini gue sama dia janjian dinner bareng di Pacific Place. Gue bilang sama dia waktu itu, perasaan cinta yang ada antara gue dan dia mengubah semuanya. Semua yang ada di antara kami. Gue jadi orang yang lebih posesif, dia juga lebih cemburuan. Gue jadi orang yang terlalu banyak menuntut, dia juga penuh kontrol.  Saat itu sih kami merasa nyaman saja, bahagia – bahagia saja. Malah makin cinta, makin sering kangen sama dia. Lalu gue juga tanya sama dia, kenapa sih kita selalu dan selalu kembali ke situasi seperti ini. Maksudnya gini, gue dan Winda sama – sama sadar kalau kami itu saling cinta, tidak terbantahkan. Tapi kenapa pada akhirnya kami selalu berantem, lalu berpisah.

“Karena setiap hubungan butuh rasa aman, Dim. Bukan cuma cinta.” Jawab Winda. Ekspresinya sangat tenang, tapi serius. Gue seperti melihat sisi lain dari perempuan yang gue cintai ini.

“Yang bikin suatu hubungan indah itu karena adanya cinta, Win. Dengan memiliki satu sama lain aku rasa itu cukup. Harus gimana lagi? Selama ini we make each other happy just by existing to each other.” Gue membantah argumennya.

“Dan hubungan kita nggak berhasil, kan?”

“Itu ego kita. Gampang ngomong putus. Itu bukan logika ataupun rasa. Itu ego, Win.”

“Cinta yang nggak mampu meredam ego adalah cinta yang gagal, Dim. Artinya cinta itu nggak membuat kita lebih dewasa…lebih baik. And If a relationship doesn’t make us a better person, we shouldn’t keep it.”

“Kita akan bisa sama – sama belajar kok. Belajar untuk nggak egois, untuk membuat satu sama lain lebih baik….”

See? Cinta aja nggak cukup kan? Diperlukan usaha yang sangat keras.”

“Dan sayangnnya kamu selalu cepat menyerah.” Gue tembak dia. Sedikit menyesal setelah ngomong gitu, tapi jauh lebih lega. Selama ini gue pendam banyak tanya di hati gue, kenapa Winda cepat menyerah pada hubungan gue dan dia. Beberapa kali kita putus hubungan, nyambung, dan putus lagi, selalu Winda yang menginginkan perpisahan itu. Gue liat ada kekecewaan lagi di mata nya.

“Dan kenapa kamu dengan mudah bilang iya? Karena kamu juga menyerah kan. Atau kamu memang udah nggak ingin lama – lama lagi dengan hubungan kita karena saat itu kamu ngeliat kalau Claudia akan lebih menyenangkan kamu.” Winda masih saja meledak – ledak saat berhadapan sama gue. Kata – katanya tadi lebih kepada dia menuduh gue, bukan bertanya. Dan itu juga lah yang dulu gue jadikan alasan untuk bilang kalau gue lelah dengan hubungan ini. Harga diri gue yang nggak bisa terima dengan tuduhan – tudahan dia.

“Kamu tahu persis, Win, kita putus kapan? Aku berhubungan sama Claudia kapan? Dan kapan aku dengar udah ada Aditya di samping kamu? Kamu bisa jawab sendiri.”

Gue nggak tahu seberapa jauh jarak yang tiba – tiba membentang di antara gue sama dia waktu itu. “Dan harusnya kamu tahu…aku nggak mungkin mempertahankan orang yang memang udah nggak bahagia disamping aku, sebesar apapun cinta aku buat dia.” akhirnya gue tunjukkan lagi keakuan gue sebagai seorang laki – laki.

Itu gue. Egois. Sejak dulu. Sampai kemarin.

Kemarin saat gue belajar banyak.

Belajar dari cintanya Winda.

♥♥♥ 

DIA YANG TAK (MUNGKIN) TERKALAHKAN

Dimas

Some people say the joy of being single adalah nggak perlu menjaga perasaan pasangan, yang yaa, terkadang itu sangat melelahkan. Trying too hard to please your lover is very sucks. Come on, even God can’t do that. Gue setuju dengan itu, walaupun nggak sepenuhnya masuk di teori hidup gue dalam cara bagaimana memperlakukan pasangan. Seperti yang pernah gue bilang, karena gue dulu bukan orang yang setuju dengan ide setia pada satu cinta seumur hidup, maka gue juga bukan tipe laki – laki yang sangat berusaha keras melakukan apapun demi menyenangkan pasangan. Gue akan menjadi diri gue sepenuhnya, dengan prinsip “love it or leave it”. Titik. Nggak akan bikin gue ribet, dan gue harap nggak akan bikin pasangan gue manja juga. Anjisss…belagu nggak sih gue?

Elo semua boleh deh bilang gue belagu, tengil, atau gila sekalian. Walaupun mungkin gue akan jadi laki – laki gila paling keren yang pernah elo tahu. Gue ingat sekali, dulu waktu gue sama Winda masih mesra – mesranya, sering tuh orang – orang, khususnya perempuan tanya sama dia. Nggak jelas juga maksudnya apa tanya – tanya. Sirik mungkin gue rasa. Yang jelas ada aja yang tanya atau komentar, kuat banget Winda pacaran sama Dimas lama – lama. Dan calon istri orang yang dulu (mungkin masih sampai sekarang) sangat gue cintai itu selalu jawab dengan entengnya “Which woman could say no to him. Perempuan mana sih yang bisa nolak pesona Dimas.”  Kata Winda, terkadang itu saja cukup untuk membuat dia senang. Bahagia dengan kenyataan bahwa dia tahu dengan pasti, kalau dia memiliki gue, lebih dalam lagi, menguasai hati gue sepenuhnya tanpa gue harus bersikap berlebihan. Memang juara deh perempuan satu itu. Gimana gue nggak cinta coba. Sampai gue lupa satu hal, arti berjuang untuk mempertahankan cinta, untuk membuatnya tetap di tempatnya. Mungkin dia cukup tahu perasaan gue saat itu, tapi dia tidak cukup merasakan bahwa dia sangat berharga buat gue. Gue tidak pernah menghitung berapa kali gue ngomong kalau gue cinta sama dia. Yang gue ingat dia selalu tersenyum sama gue, tertawa di sisi gue. Tertanyata gue salah mengira.  Sekarang gue  tahu perempuan adalah salah satu makhluk yang selalu merasa insecure, termasuk dalam menjalani sebuah hubungan. Kalau seberapa sering dia tertawa cukup dijadikan patokan bahwa dia bahagia, mungkin saat ini Winda akan lebih memilih bersama Sule yang selalu bikin dia ngakak itu, daripada sama Aditya. Bagaimanapun perempuan perlu diyakinkan. Saat itu gue tahu, dan tersadar, dan terlambat.

Relationships end because one person doesn’t realize what they’ve got, until it’s gone. Itu benar banget.

Setelah akhir yang kurang menyenangkan antara gue dan Winda saat terakhir kami dinner bareng di Pacific Place itu, beberapa hari setelahnya gue menelepon dia. Mencoba menuntaskan komunikasi kami yang selalu tidak pernah ada akhirnya.

“Aku minta maaf soal waktu itu.” Gue tahu ini yang harus gue ucapkan paling awal.

“Aku juga salah kok, Dim. Aku minta maaf, yah.” balas Winda, seperti biasa, mengobrak – abrik kepingan hati yang mulai gue coba tata kembali.

“Aku nggak pernah bermaksud nyakitin kamu lagi. Aku tahu aku sering bilang kayak gini sama kamu. Aku mau bilang, there is something I want you to know… tidak pernah ada perempuan manapun dalam hati aku, di hidup aku, saat kita masih sama – sama dulu. Dan terus terang aku marah, kamu bilang kalau aku dengan gampang setuju untuk putus sama kamu waktu itu karena ada Claudia. Nggak seperti itu. Aku cuma nggak bisa mempertahankan seseorang supaya terus sama aku kalau orang itu memang udah merasa nggak nyaman.”

“Aku tahu kok, Dim. Sangat tahu dan aku mengerti.”

“Tapi aku nggak tahu kalau kamu ngerti. Aku cuma melihat, bahwa aku terlambat untuk meminta semuanya kembali. Aku terlalu kaget saat tahu kamu sudah sama Aditya, dan kesempatan itu nggak pernah ada lagi.”

You know what, Dim, waktu itu aku cuma berpikir mungkin aku harus mengejutkan kamu. Dan keputusanku menerima Aditya nggak lama setelah kita putus adalah memang rencana aku…to break your heart. Just to teach you a lesson.” Gue dengar suara Winda sedikit berat. Tapi gue merasakan kepala gue makin berat. To teach me a lesson?

“Tapi akhirnya semua berjalan seperti ini. Aku nggak bisa lepas dari Aditya tanpa aku juga tahu ini apa…” Winda lanjut lagi. Gue masih mendengarkan. Berpikir. Mencerna luapan hatinya.

“Karena kamu cinta sama Aditya,” kata gue lemas. “Mungkin…,” sahut Winda bikin gue tambah lemas.

“Jujur aku pernah sangat berharap cara Ditya meyakinkan aku, itu datang dari kamu.” Suara Winda tercekat. Gue sedih mendengarnya. “Berkali – kali aku bilang sama Ditya, aku nggak yakin dengan rencana pertunangan, bahkan pernikahan ini. Ini gila. Dua tahun Ditya berjuang membuat aku yakin dia yang terbaik mendampingi aku. He’s take all the time in the world to make me fall in love with him. Bodohnya aku, selalu membayangkan kamu yang melakukan itu buat aku, Dim. Tapi sekali lagi, itu cuma harapan aku. Harapan semu. Sedangkan hidup berjalan, menggiring aku untuk memutuskan. Keputusanku karena aku mengerti, mungkin memang aku selalu menyimpan cinta buat kamu, Dim, tapi Allah memilihkan Aditya sebagai jodohku”.

“Jika Allah memutuskan memilihkan Aditya untuk kamu, lalu siapa yang mengilhamkan cinta segini kuatnya di hati kita?”

“Tidak semua cinta harus bersatu, Dim.”

“Kamu bahagia seperti ini, Win? Please jawab jujur, sekali ini.”

“Kebahagiaan itu memilih, Dim. Aku memilih menerima kenyataan ini.”

Oke, sekali ini terserah elo semua bilang gue cengeng, cemen, dan kata – kata hina dina lainnya ke gue. Tapi elo semua akan menangis juga melihat bagaimana seorang laki – laki terkeren dan terganteng di Jakarta bahkan mungkin di Indonesia seperti gue ini mengais – ngais kepingan harga diri yang berserakan di lantai karena cinta seorang perempuan.

“Kamu nggak pernah kasih aku pilihan untuk melakukan itu sama kamu, Win. Kalau bahagia adalah pilihan, seharusnya menjadi bahagia itu sederhana saja. Sesederhana hati aku pilih kamu, dan kamu pilih aku. Nyatanya apa?”

“Maafkan aku, Dim.”

“Aku cuma mau lihat kamu bahagia, Win. Aku sayang sama kamu.”

Bicara soal pilihan dalam hidup dan kebahagiaan yang sederhana, ternyata itu semua sama sekali tidak ada hubungannya dengan cinta saling memiliki. Cinta itu harus tepat kadarnya, dan sesuai kebutuhan. Sorry, kalau sekali lagi gue terdengar cemen. Begini analoginya, saat ada seseorang kelaparan, yang harus elo kasih ke dia sederhana saja, mungkin sepiring nasi dan lauk pauk nya yang akan membuat dia kenyang, bukan berlian. Meski lebih mahal, berharga, dan berkilauan, berlian tidak akan membuat dia kenyang. Bisa saja sih, tapi memerlukan proses panjang. Menjualnya demi mendapatkan uang, membeli makanan yang dibutuhkan, baru setelah itu bisa makan.  Mungkin orang yang lapar tadi sudah mati karena kelaparan.

Itu juga yang terjadi antara gue dan Winda. Yang bisa gue berikan mungkin lebih dari yang Aditya mampu berikan. Tapi yang Winda butuhkan adalah bentuk cinta yang Aditya sanggup persembahkan. Kenyataan bahwa Winda sekarang sudah bertunangan dengan Aditya itu membuat gue tidak bisa bersikap egois. Tidak karena gue tahu bahwa Winda masih menyimpan butir sayang itu ke gue, maka gue bisa memiliki dia lagi kapanpun gue mau. Melepaskan dia adalah pilihan gue. Untuk memberi dia ruang memilih dengan tenang kebahagiaannya. Karena apapun kebahagiaan dia akan juga membahagiakan gue. Mencintai dan kebersamaan dengan seseorang itu dua hal yang sangat berbeda. Ketika kebersamaan kita dengan seseorang berakhir…itu ketika dia tidak lagi berada disamping kita, cinta kita belum tentu pergi bersamanya. Cinta tidak bisa dibatasi oleh memiliki atau melepaskan. Ternyata memang sesederhana itu.

Lebih sederhana lagi namun pasti, satu hal lebih besar gue ketahui dan yakini, ada DIA yang Maha Mengatur segalanya. DIA yang tidak mungkin gue kalahkan ketetapannya, sebesar apapun gue gadang – gadang cinta yang gue miliki.

 

Aditya

Pernah dengar istilah “Proximity Infatuation”? Itu adalah sebuah ungkapan untuk menjelaskan proses jatuh cinta karena terbiasa. Orang jawa bilang witing tresno jalaran seko kulino. Sejak pertama saya kenal dan kemudian bisa dekat dengan Winda, saya ketahui dengan pasti, ada sosok sempurna yang sangat melekat dalam hati dan pikirannya. Mantan pacarnya, Dimas. Tapi saya yang sudah sangat menyukai Winda sejak dulu, tidak sanggup menahan diri untuk tidak mendekatinya, sekuat tenaga meraih simpatinya, sabar menunggu dia benar – benar membuka hatinya untuk kehadiran saya, sampai pada akhirnya tidak dalam waktu menunggu terlalu lama, dia resmi menerima cinta saya. Tentu saya sangat senang, dan bangga. Meski kebanggan saya itu juga seringnya tergores luka.

Disinilah saya meyakini proses Proximity Infatuation itu akan berlaku pada Winda dan saya. Saya hanya perlu hadir sebagai seseorang yang setia menemani dia mencari kebahagiaan, dan kenyamanan. Kebersamaan yang intens akan menciptakan kebiasaan untuk selalu bersama – sama. Dan itu berhasil. Dua tahun berlalu, dalam ritme kehangatan yang naik turun, melalui perjuangan ekstra keras agar saya tetap dapat menggenggam dia dalam pelukan saya, dengan berbagai cara dan proses demi meyakinkan dia, akhirnya bulan depan, Winda akan resmi bergelar nyonya Aditya. Jangan tanya, sesulit apa membawa Winda pada kondisi sekarang. Yang saya lakukan adalah tidak ngotot menjadi yang terhebat, atau sekedar yang terkeren untuknya-karena tidak mungkin juga saya lakukan-saya cukup menjadi tempat curhat terbaiknya. Sejak awal saya sudah yakin, dia adalah jodoh saya.

Saya ingat pertama kali saya menyatakan perasaan saya pada Winda. Waktu itu setelah menjemputnya dari kantor, kami makan malam bersama di sebuah restoran sushi. Saya sudah tahu, Winda penggila makanan jepang itu. Malam itu saya tidak melepaskan kesempatan untuk mengukuhkan kedekatan kami yang sudah berjalan dua minggu.

“Kita udah berapa lama yah jalan bareng? Dua minggu?” kata saya sambil menggenggam tangannya.

“Iya, ada lah sekitar dua minggu. Kenapa, Dit?” tanyanya sambil menatap saya. Tidak ada kegugupan padanya seperti yang saya rasakan. Saya tidak tahu, apakah saat itu Winda sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan saya selanjutnya, atau justru dia clueless sehingga dengan biasa saja tanpa ekspresi tertentu menjawab pertanyaan yang sebenarnya hanya saya jadikan sebagai kalimat pembuka.

“Win, kamu tahu kan aku sayang sama kamu?” saya masih menggenggam tangannya. “Sejak hari pertama kita ketemu, aku udah suka sama kamu…sangat suka. Setelah kita makin dekat, aku sadar aku sayang sama kamu. Aku pengen bisa jaga kamu terus, Win.”

“Aku nggak bisa, Dit.” tolaknya waktu itu. “Jangan tanya kenapa, kalau kamu perduli sama perasaan aku.”

“Aku tahu, tanpa kamu harus bilang. Aku yakin kita bisa sama – sama jalanin ini. Kalau kamu masih butuh waktu untuk lebih yakin, oke, aku akan kasih kamu itu…tapi aku mau aku ada di dalamnya.”

Winda tersenyum hangat. Dia menerima saya. Yang saya tidak tahu, apa yang ada di hatinya saat itu. Yang tidak saya yakini, cinta kah dasar dia menerima saya atau hanya pengalihan rasa kecewanya setelah putus dari pacar sempurnanya itu. Yang membuat saya bertahan, saya semakin tidak bisa melepaskan dia setelah sekian lama kami bersama. Meski, sekali lagi saya tidak pernah benar – benar merasa yakin, perasaan apa yang membuat dia pun bertahan pada hubungan ini. Yang jelas, kami bukan pasangan super romantis yang bisa membangkitkan rasa iri pasangan lain.

Sampai saya melamarnya beberapa bulan lalu, dan Winda mengangguk setuju pada rencana pernikahan kami bulan depan.

“Aku ingin melamar kamu secepatnya, Win,” ujar saya pada satu malam di rumahnya. Winda terkejut. Dia hanya diam sebelum akhirnya menjawab “Aku belum siap, Dit.”

“Aku ingin kepastian, Win. Kapan kamu siap?” saya mendesaknya.

“Aku nggak tahu. It’s gonna take a long while. Aku nggak yakin tentang pernikahan. Itu nggak mungkin main – main.”

Let me fix it, Win. Please, trust me…I will do it. Just let me.”

Sekali lagi Winda mengangguk setuju. Saya bahagia. Bahagia takdir berpihak pada saya. I’m happy because finally I can win her heart. I can win this.

                                                                       

Winda

Can’t stop having you in my mind.

Sebuah pesan BBM masuk. Dari Dimas. Aku membacanya, dan aku benci mendapati hati ini masih saja diam – diam bahagia. Kamu seperti tamu tak di undang, Dim. Kamu selalu datang tiba – tiba, tapi anehnya hatiku seperti sedang menunggunya. Kamu curang. Kamu tahu, aku tidak mungkin bisa menolak kehadiran kamu lagi. Tidak mungkin begitu saja lolos tanpa tergoyah. Kapan ini akan selesai.

Aku begitu ingin membalasnya, mengatakan dengan tegas, “Jangan terlalu jauh lagi masuk di hidupku, Dim.” Tapi aku pengecut, aku terlalu takut mengatakannya. Takut kamu benar – benar pergi. Kenapa aku seperti ini, disudutkan dilema antara kamu dan Ditya. There’s always that one special person that no matter what they do to you, good or bad. You just can’t let them go. Tidak! Aku sudah memilih. Sudah menemukan jawaban.

Aku akan selalu jadi teman terbaik kamu.

Akhirnya kubalas. Read. Not reply. Aku mengerti.

Dan memang aku akan selalu menjadi teman terbaiknya. Seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Aku dan Dimas sudah ‘berteman’ sejak kami masih berstatus pacaran. Berteman dalam arti, bisa menerima satu sama lain, merasa nyaman hanya dengan kehadiran satu sama lain, bisa bicara apapun. Hubungan kami sangat hidup dulu. We talked, we laughed, we’re happy together. What I like the most about him is that he can make me laugh, when nothing’s even funny.

A real relationship is when you can tell each other anything and everything. No secrets, no lies. Itulah aku dan Dimas. Dia paling mengerti bahasaku, begitu juga aku. Sampai akhirnya… I don’t know what happened to us.

“Win…”

“Iya, Dim…” Oh shit! Kakiku lemas seketika. Ditya di hadapanku, dan siapa tadi yang aku sebut namanya. Oke, sudah terlanjur sebut. Cepat pikirkan untuk memperbaikinya. “Iya, Dit…udah sampai, yah?” Ah stupid question.

“Kamu panggil aku apa tadi? Aku dengar loh, Win.” Tatapannya tak terbaca olehku. Oh God, help me. Sekuat tenaga tetap tenang, dan tersenyum. Semoga tidak terlihat dipaksakan.

“Aku tanya, kapan kamu sampai, Dit. Kenapa?” Pertanyaan bodoh, aku tahu. Tapi cuma itu yang kuharapkan bisa menyelamatkanku. Please Winda, think hard, Aditya tidak bodoh.

Ditya tidak menjawab. Dia hanya diam, dan bagiku itu lebih buruk dari pada dia melakukan satu tindakan ekstrim, melempar barang misalnya. Duh tidak mungkin. Ini kantor. Ditya datang menjemputku. Kami akan mengadakan technical meeting terakhir dengan pihak WP di ballroom hotel tempat kami akan menikah.

It’s awkward silence between us now. For a five minute.

“Boleh kalau aku minta nggak mau lagi dengar nama dia sebut di depan aku? Apalagi spontan kayak tadi…”

“Aku minta maaf, Dit…” cuma itu yang bisa aku katakan. Membela diri akan membuatku tampak lebih buruk.

“Bisa nggak, Win?” bentaknya tiba – tiba padaku. Ditya kehilangan kontrol diri nya. “Aku nggak tahu yah, di belakang aku…apa aja yang pernah kalian bicarakan. Masih kamu curhat sama dia. Penting kamu bilang sama dia tentang kita. Apa yang dia bilang sama kamu…?”

“Dit…”

“Oh aku tahu… dia bilang kamu nggak akan bahagia sama aku? Dia bilang gitu? Aku akan kasih lihat sama dia, aku yang akan bisa membahagiakan kamu…cuma aku. Ngerti kamu!” Mata Ditya penuh kilat amarah.

“Keterlaluan kamu, Dit. Aku nggak sepicik itu yah. Jujur aku bilang sama kamu, aku memang masih berkomunikasi sama Dimas, but I’m old enough to know which is appropriate to talk it and which is not. Kamu salah menuduh calon istri kamu sendiri kayak gitu. Aku kecewa sama kamu, Dit.”

Aku kecewa pada Ditya. Kecewa dia masih tidak sepenuhnya percaya pada ketetapan hatiku memilihnya, pada keteguhanku menerima ini.

♥♥♥ 

ANALOGI CINTA

Dimas

Dia itu kupu – kupu. Indah. Menawan. Kebahagiaannya ketika dia bebas terbang.

Hidup gue seperti sepatu. Nyaman membawa gue melangkah menapaki tangga kebahagiaan.

Kupu – kupu dalam sepatu. Itulah gue dan dia.

Saat kupu – kupu berada dalam sepatu, dia tidak bebas menggapai bahagianya. Mungkin dia akan mati. Dan sepatu tidak dapat memaknai fungsinya. Maka yang terbaik adalah, membiarkan kupu – kupu terbang pergi meninggalkan agar sepatu dapat terus berjalan mencari tempat terindahnya.

Hari ini gue bahagia.

Menghadiri resepsi pernikahan salah satu perempuan yang paling berarti dalam hidup gue. Ini cara gue memberi tahunya, gue akan selalu mendukung apapun langkah yang akan membawanya pada kebahagiaan.

Gue berharap dia bisa melihat betapa besar sayang yang tersimpan daripada hanya sekedar kata cinta yang bisa terucap.

Gue mendoakan kebahagiaannya.

 

Winda                                       

Aku pernah menjadi matahari untukmu. Memberimu cinta tanpa pamrih, kesetiaan, penantian, maaf yang tak pernah habis, dan pengorbanan menyakitkan.  Aku ingin kau kenang menjadi mataharimu yang pernah datang memberimu harapan.

Tapi aku tahu matahari hadir dibatasi waktu. Seperti aku dihidupmu.

Menikahinya adalah keputusan Allah. Tapi tetap menaruhmu di salah satu sudut hati adalah keputusanku.

♥♥♥

EPILOG                                                         

Jika semua hal memiliki dua sisi-baik dan tidak baik, indah dan buruk, menyenangkan dan menyengsarakan, membahagiakan dan menyedihkan, putih dan hitam-pun begitu dengan cinta. Saat cinta menyapa, ia pun menghadirkan dua sisi berbeda.

Apa sebenarnya yang disebut dengan cinta? Mungkin hanya dua perasaan yang kebetulan berpapasan di waktu yang sama, sampai kau memilih jalan mana yang akan kau ambil.

Ini bukan tentang Dimas.

Ini bukan tentang Winda.

Ini tentang cinta Dimas dan Winda. Tentang cinta yang kau tahu belum berakhir kisahnya. Sampai mereka tahu siapa orang terakhir di sisi mereka saat hidup mereka berakhir.

…the end

@hubsche_petty

*Seluruh cerita, karakter, kejadian, dan lokasi hanya fiktif.

Please, leave your comment! Thank you :)


[1] Baca di Cerpen Cinta (Belum) Mati

Advertisements

16 thoughts on “Cerpen: CINTA (BELUM) MATI – II

  1. Kreeenn>>> nih cerpeen>>>hayuuu petty pery buat dong scenario kirim ke snmart..Petty pasti bisa 🙂

  2. Ini tentang cinta Dimas dan Winda. Tentang cinta yang kau tahu belum berakhir kisahnya. Sampai mereka tahu siapa orang terakhir di sisi mereka saat hidup mereka berakhir.

    Takdir tak tau arahnya…Penasaran akhir crita Cinta Dimas winda niih..ntar ada CBM 3, dst
    Pengen di akhir crita Winda Dimas bahagia sampai Syurga :))

  3. Bener2 bagus pet, di awal cerita dah terhanyut gw…hayyooh lanjutin di buat buku 😉 pasti lebih bagus deh..

  4. Huaaaaa.. Bagus sekali ceritanya mba Petty.. Baguuusssssss.. Emosinya dapet bangetttt.. Huaaaa, jadi pengen nangissss :(((

    “Menikahinya adalah keputusan Allah. Tapi tetap menaruhmu di salah satu sudut hati adalah keputusanku.” >> dalem bangettttttt.. *mewek*

    Saya juga suka banget dengan epilognya, mbaaa..
    “Ini bukan tentang Dimas.

    Ini bukan tentang Winda.

    Ini tentang cinta Dimas dan Winda. Tentang cinta yang kau tahu belum berakhir kisahnya. Sampai mereka tahu siapa orang terakhir di sisi mereka saat hidup mereka berakhir.”

    I’m hooked with this story mba. Penasaran pengen tau ending cerita cinta Dimas dan Winda. Jadiin novel aja mba hehehe 😉

    • Hai Lia, salam kenal juga 🙂

      Makasih yah udah baca dan suka sama ceritanya. Very appreciate it 😉

      InsyaAllah mudah2an segera dapet inspirasinya buat dijadiin novel hehehe.

      Me love ur blog too, dear. Informatif and very entertaining.

  5. Keren asli keren bgt, kenapa ga buat buku aja, bakalan lbh bagus tuh,suka bgt ama endingnya winda n dimas, yg ga harus jadi :), jd atas nama cinta ga harus bikin winda jd penghianat, suka banget lah, keren abiiis 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s