DILEMA : Potret Gelap Jakarta

Hai Movie Lovers,

Pemain : Roy Marten, Slamet Rahardjo, Reza Rahadian, Ario Bayu, Pevita Pearce, Winky Wiryawan, Baim Wong, Wulan Guritno, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Ray Sahetapi, Jajang C. Noer, Abimana Aryasatya, Kenes Andari, Verdi Solaiman, Rangga Djoned

Sutradara : Adilla Dimitri, Robby Ertanto, Rinaldy Puspoyo, Robert Ronny

Penulis : Robert Ronny, Adilla Dimitri, Wulan Guritno, Rinaldy Puspoyo, Robby Ertanto, Tyo Setyoso

Produser : Wulan Guritno

Produksi : WGE Pictures

SINOPSIS :

Mengusung lima cerita dalam satu kesatuan film.

Pertama layar di buka (The Officer), kita akan berkenalan dengan Brigadir Aryo Sustoyo (Ario Bayu), polisi muda idealis yang baru saja dipindahtugaskan dari Medan ke Jakarta. Hari itu dia harus bermitra dengan polisi senior Bowo (Tio Pakusadewo). Di tugas pertamanya itu, Aryo bersama Bowo harus mengamankan sebuah demo. Seiring cerita berjalan, Aryo akan melihat sisi lain polisi. Antara kejahatan dan polisi, tidaklah se hitam-putih yang dipikirkannya, tidak juga selalu bersebrangan. Di penghujung cerita, Aryo akan menemui dilemanya.

Bergulir ke cerita kedua (Garis Keras), kita bertemu dengan kondisi tegang antara dua kelompok agama radikalisme yang berusaha diamankan oleh Aryo dan Bowo tadi. Sebuah mesjid yang di anggap beraliran Islam sesat (mengakui nabi setelah Muhammad) di demo oleh golongan Islam garis keras yang dikomandoi oleh Ibnu (Baim Wong) atas kendali Said (Winky Wiryawan). Demo berakhir dengan bentrokan. Usai demo Said memberi jatah upah pada Ibnu. Disini Ibnu menyadari tidak semua pendemo seperti dirinya, berniat tulus menegakkan syariat Islam yang diyakininya.

Di kisah ketiga (Rendezvous), kita melihat seorang perempuan muda yang sedang menyendiri di tepi pantai. Gadis itu bernama Dian (Pevita Pearce). Ia melarikan diri dari trauma rasa bersalah atas kematian ibunya, dan rasa kesepian karena tidak diperhatikan oleh ayahnya yang kaya raya. Di pantai, ia didekati beberapa pria muda dan Rima (Wulan Guritno) seorang lesbian yang akhirnya mencekokinya dengan narkoba (ecstasy), padahal Dian sudah berhenti menyentuh barang haram itu. Bercermin pada karakter – karakter di cerita ini, kita akan mahfum betapa narkoba dengan mudahnya menggedor mental mereka yang tengah depresi atau mereka pencari kesenangan sesaat.

Lalu cerita beralih ke kisah selanjutnya (The Big Boss). Ada Adrian, seorang arsitek muda yang merasa heran dan kaget di tengah hari bolong didatangi seorang perempuan, Hetty (Jajang C. Noer) atas utusan seorang pengusaha sukses yang mengundangnya ke rumahnya. Lebih terkejut lagi, di rumah si penguasa Jakarta bernama Soni Wibisono (Roy Marten) itu, Adrian mendapati kenyataan bahwa SW adalah ayahnya yang katanya sang pengukir sejarah hidupnya. Mantan preman yang beralih jadi pengusaha itu sudah sakit – sakitan. Diapun mengendalikan kekuasaannya hanya dari atas tempat tidur.  Merasa hidupnya tidak lama lagi, SW hendak menjadikan Adrian, putera laki – lakinya itu sebagai pewaris kerajaan bisnisnya.

Kisah terakhir (The Gambler) bertutur tentang mantan penjudi bernama Sigit (Slamet Rahardjo). Dia dulunya  dijuluki The King of Gambler sampai akhirnya ditinggalkan oleh istri dan anaknya dan dia pun jatuh menjadi seorang pecundang. Malam itu Sigit kembali menyambangi tempat judi ilegal yang dulu biasa didatanginya. Disana Sigit yang hendak mengais sisa – sisa harga dirinya dengan menebus kembali jam tangan emas warisan keluarga yang dulu sempat tergadai, berhadapan kembali dengan Gilang (Ray Sahetapi), pengelola kasino yang juga musuh bebuyutannya. Keberuntungan berpihak padanya malam itu. Jam tangan warisan berhasil ia dapatkan kembali sampai serombongan polisi datang menyatroni. Salah satu polisi itu, Aryo, anaknya sendiri.

CERITA & KARAKTER :

 Dua jempol. Love it! Love it!

Dilema di gadang – gadang akan menjadi film besar dan penting tahun ini. Keberanian Wulan Guritno sebagai produser mengangkat kompleksitas realitas di Indonesia, atau secara spesifik di Jakarta sesuai setting lokasi film ini patut di acungi jempol. Tidak banyak (saat ini) produser, apalagi baru, berani memproduksi film dengan tema non-populer seperti ini.

Dilihat dari judulnya, kita sudah memiliki sebuah gambaran mengenai ceritanya secara global. Dilema berarti sebuah kondisi sulit untuk membuat keputusan yang tepat di antara dua pilihan. Karena film ini terdiri dari banyak cerita (multi plot/kumpulan cerita pendek/omnibus) kesan tentang dilema itu seharusnya dapat di rasakan di setiap bagian cerita. Nyatanya saya lebih banyak melihat sebuah ironi dari film ini.

Kondisi Dilema dari karakternya hanya dapat dilihat dari :

  1. Perasaan Dilema Brigadir Aryo antara harus memenjarakan ayahnya yang seorang penjudi yang berarti  menjalankan tugasnya sebagai polisi dengan baik atau membiarkan ayahnya melenggang bebas tanpa tersentuh hukum.
  2. Perasaan Dilema kedua terlihat dari si penjudi gaek, Sigit. Dia terjebak di antara dilema kembali berjudi demi mendapatkan kembali jam tangan warisan atau benar – benar berhenti total seperti saran sahabatnya.

Lihat lebih dalam cerita di film ini, temukan banyak ironi ditampilkan disana :

  1. Di saat ada orang – orang yang benar – benar punya niat berjuang menegakkan syariat Islam seperti tokoh Ibnu, ternyata ada grand design yang lebih kuat dibelakangnya bertujuan hanya untuk mengadu domba dan membuat kekacauan, yang merusak citra para pejuang moral yang murni atas nama agama.
  2. Betapa uang dan kekuasaan dapat mengatur segala urusan. Ilegal menjadi legal. Baik terlihat buruk. Kejahatan berkuasa. Bahkan persahabatan pun dapat dibeli.
  3. Seorang pengusaha sukses mantan preman, hampir menguasai kota Jakarta di segala sektor kehidupan ‘mengalahkan’ kekuasaan pemerintah.
  4. Ada sebagian polisi yang berjuang keras merealisasikan-katakanlah-jargon “Polisi sebagai Pengayom dan Pelindung Masyarakat”, justru usaha itu dihancurkan oleh sebagian oknum polisi lainnya dengan melakukan hal – hal yang bertentangan dengan hukum, dan jelas – jelas akan mengganggu ketentraman masyarakat, seperti yang dilakukan polisi senior Bowo dalam film ini.
  5. Gaya hidup hedonis dan berpesta ria masih saja jadi pilihan untuk lari dari kenyataan hidup, sementara di sudut lain kota Jakarta ada yang mengais rejeki dengan menjadi penyanyi gerobak keliling, dan itu pun harus dihadang atas nama moral.

Secara keseluruhan cerita yang di tampilkan melalui kelima cerita pendek di film ini cukup memberi gambaran mengenai realitas kota Jakarta, seperti tujuan dari film ini. Kita akan terkejut berkata “Benarkah seperti itu?” atau bergumam geram dalam hati atau hanya sekedar tersenyum sinis betapa adegan yang ditampilkan mengingatkan kita pada beberapa kejadian yang sering sekali menghiasi pemberitaan di televisi.

Cerita yang digulirkan melalui karakter – karakternya sangat pas. Tidak ada tokoh tempelan yang asal eksis. Tidak terlihat cameo wara wiri untuk sekedar menunjukkan bahwa ini film mahal. Pun tidak ada ‘salah casting’. Semua aktor dan aktris memainkan peran dengan baik dan sesuai porsinya. Ada beberapa chemistry yang mengena pada saya sebagai penonton, yaitu antara tokoh : Ibnu dan Said (yang diperankan dengan apik oleh Baim Wong dan Winky Wiryawan) ; Adrian dan Soni Wibisono (yang jadi sangat berkarakter dimainkan oleh Reza Rahadian dan Roy Marten) ;  Sigit dan Adri (kedekatan emosi secara natural ditampilkan dengan baik oleh Slamet Rahardjo dan Lukman Sardi).

Satu bintang saya sematkan untuk pembangunan cerita, dan satu bintang untuk ketepatan karakter dan akting pemain.

SINEMATOGRAFI DAN KELENGKAPAN CERITA :

Keren di satu bagian. Kurang di bagian lain.

Untuk film – film yang mengangkat realitas kehidupan, apalagi kompleksitas realitas sebuah kota besar seperti Jakarta, setting lokasi menjadi satu bagian film yang penting untuk diperhatikan dengan detail. Seluruh tim film Dilema rupanya menyadari betul hal itu dan tidak main – main. Kita akan mengetahui film ini dipersiapkan dengan matang. Misal, untuk setting lokasi rumah seorang pengusaha penguasa Jakarta, tidak mungkin asal besar saja. Lihatlah inisial SW di gerbang rumah yang menjadi rumah Soni Wibisono.

Berbeda dari film omnibus kebanyakan yang menuntaskan satu cerita pendek, lalu berlanjut ke cerita pendek lainnya, dimana pada satu bagian kita akan melihat benang merah/keterkaitan cerita satu dengan lainnya, film Dilema menampilkan lima cerita sekaligus dengan bergantian. Tidak ada yang salah dengan cara seperti ini, justru kita akan semakin merasakan bahwa film ini memang satu kesatuan film utuh. Cukup perhatikan jalan cerita dengan serius, maka kita akan tahu tokoh mana berhubungan dengan tokoh mana, bagian cerita yang satu berbeda dengan bagian cerita yang mana. Bahkan dari gaya pengambilan gambar dan pencahayaan, kita sudah dapat mengidentifikasi.

Hanya saja ada satu hal yang terlewat untuk diperhatikan detail, yaitu waktu kejadian dari masing – masing cerita. Jika satu cerita berganti ke cerita lain, terus seperti itu sampai film berakhir, seharusnya asumsi yang muncul adalah semua tokoh mengalami kejadian – kejadian tersebut dalam satu jangka waktu yang sama, apalagi semua terjadi di satu kota, Jakarta.  Disini ada sedikit kebingungan bagi saya.

  • Kisah The Officer berlangsung dari pagi hingga malam. Berakhir di kantor polisi.
  • Cerita Garis Keras berlangsung siang berlanjut malam, ke esok harinya, malamnya, lalu esok subuh. Lihat adegan terakhir setelah adzan subuh.
  • Beda lagi dengan cerita Rendesvouz, cerita bergulir dari siang ke malam, ke esok harinya saat seseorang ditemukan meninggal di tepi pantai.
  • Kisah Big Boss berlangsung sepanjang siang, berlanjut ke esok harinya lagi saat adegan penusukan di depan kantor polisi.
  • Cerita The Gambler berlangsung hanya sepanjang hari, di akhiri di penjara.

Padahal cerita film ini dimulai dan diakhiri secara bersamaan tapi dalam setting waktu berbeda. 😀

Disini editing kurang berperan rapih, atau kurang ada koordinasi dari masing – masing sutradara. Maklumlah film ini digarap empat sutradara berbeda.

Namun angkat topi untuk keempat sutradara muda, Adilla Dimitri, Robby Ertanto, Rinaldy Puspoyo, dan Robert Ronny, tata sinematografinya sangat apik dan sesuai mood cerita. Benar – benar bikin saya suka! Tidak dikesankan mewah, jika memang tidak perlu.  Tidak ada branded things disebutkan disini. Adegan pesta di tepi pantai pun tak lantas disertai detail hedonisme.  Emosi film dengan emosi penonton dibangun cukup dekat. Ditunjang oleh tata musik yang mampu menembus perasaan. 😀

Satu bintang untuk sinematografi. Satu bintang untuk tata musik. Sebenarnya saya ingin memberikan satu bintang lagi untuk setting lokasi, tapi berkurang karena kekurangan tekhnis editing dan setting waktu.

KESIMPULAN :

Saya suka film ini. Secara keseluruhan empat bintang (dari lima bintang) untuk film debut Wulan Guritno sebagai produser dengan bendera WGE Pictures ini.

Terima kasih untuk semua yang terlibat dalam film ini sudah punya niat baik yang diseriusi dengan mewujudkan sebuah film yang mampu bertutur jujur.

Kami tunggu karya – karya apik selanjutnya demi kemajuan perfilman Indonesia.

Cintai Film dalam negeri berkualitas!!

Saalams & Blessings,

@hubsche_petty

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s