Book Review : DIVORTIARE by Ika Natassa

Judul : Divortiare

Penulis : Ika Natassa

Editor : Rosi L. Simamora

Desain Sampul : Ika Natassa

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Rilis : 2008

Tebal : 288 halaman

Love is not about finding the right person, but creating a right relationship.

Introducing : ALEXANDRA RHEA

Seorang Bankir sukses (tepatnya Relationship Manager di Border Bank). Jika meminjam istilah majalah Cosmopolitan, sosok Alex mendekati gambaran fun fearless female sejati: Cantik; Karir gemilang; Berkepribadian menarik; Ekstrovert; Bisa masuk di lingkungan pergaulan manapun; dan (seharusnya) mampu menjadi mitra sejajar bagi pria sukses manapun juga. Kenyataannya, Alex berpredikat janda di usia 27 tahun.

Introducing : BENO WICAKSONO

Seorang Dokter Spesialis Bedah Jantung hebat di salah satu rumah sakit swasta terbesar di Jakarta. Sosoknya merupakan figur yang nyaris sempurna di mata setiap perempuan: Ganteng; Jantan; Sukses di usia muda; Cool ; Tidak terlalu banyak bicara; Penuh tanggung jawab. Sayangnya, Beno tidak mampu mempertahankan pernikahannya lebih dari dua tahun.

Mengapa saya memulai review buku ini dengan memperkenalkan kedua karakter utamanya? Karena siapapun akan sepakat dengan saya, bahwa sosok Alex & Beno nampak sangat nyata dan hidup, dalam arti tidak ada manusia yang benar – benar sempurna. Seperti halnya Alex dan Beno.

Alex ‘bergelar’ janda dari Dokter Beno Wicaksono di usianya yang masih terbilang muda, 27 tahun. Artinya Alex dan Beno terikat pernikahan hanya dua tahun saja. Terpaut usia cukup jauh, yaitu delapan tahun (Alex, 25 tahun dan Beno, 33 tahun) Alex dan Beno memutuskan menikah setelah delapan bulan menjalani masa berpacaran. Saat itu mereka yang benar – benar saling jatuh cinta sejak pertama kali bertemu di konser Java Jazz Festival, yakin bahwa cinta mereka yang besar cukup sebagai modal. Kenyataannya setelah melewati masa indah pernikahan di tahun pertama dan memburuk di tahun kedua, keegoisan, gengsi, komunikasi yang buruk, dan ketidakdewasaan, menggiring mereka pada keputusan bercerai atas nama ‘masing – masing terlalu sibuk bekerja’.

Dua tahun berlalu sejak Alex dan Beno bercerai, mereka bertransformasi menjadi dua orang yang saling membenci. Ironisnya, justru setiap langkah dan keputusan yang di buat Alex seolah selalu membawanya kepada Beno. Setiap sakit Alex hanya mempercayai Beno sebagai dokternya. Saat mengalami kecelakaan – kecelakaan kecil, Beno lah yang ada disana untuk menyelamatkannya. Alex membutuhkan waktu panjang untuk mengambil keputusan menghapus tatto nama Beno dari dada kirinya. Bahkan sampai saat ibu Alex terkena serangan jantung pun, Alex menggantungkan asanya hanya pada Beno. Disinilah tarik ulur hubungan Alex – Beno menjadi daya tarik utama dalam novel ini. Pertengkaran – pertengkaran mereka tanpa disadari akan menjadi candu bagi setiap pembaca. Apalagi ya selanjutnya yang akan keluar dari mulut mantan sepasang soulmate ini jika bertengkar. Bikin gemas, lucu, sekaligus menjengkelkan melihat tingkah mereka. Ada kalimat sakti yang selalu keluar dari mulut keduanya jika sedang berdebat (saat mereka masih menjadi pasangan maupun setelah bercerai).

“Udah deh, Ben, aku tuh capek bahas – bahas beginian sama kamu. Gak penting!” ini tercetus dari Alex penuh emosi.

“Aku juga capek dengerin kamu ngomel terus. Kamu gak pernah berubah, yah, Lex.” ini dari mulut Beno dengan nada tenang.

Sampai akhirnya dengan keterlibatan Wina (sahabat Alex), munculah Denny dalam hidup Alex. Alex menyebut Denny sebagai the guardian angel-nya. Si laki – laki yang memiliki admirable qualities yang banyak tidak dimiliki Beno. Seorang bankir juga. Tampan. Sukses. Sangat sabar. Perhatian. Humoris. Selalu ada kapanpun Alex membutuhkan. Dan menerima Alex apa adanya. Sempurna bukan? Beda dengan Beno, yang disebut Alex dengan the arrogant bastard karena sikap sinis dan dinginnya. Apakah kesempurnaan Denny membuat hidup Alex juga sempurna sebagai perempuan? Mampukah Alex benar – benar lepas dari bayang – bayang Beno? Cari tau sendiri donk jawabannya! Hehehe. Bukannya pelit nggak mau berbagi lho. Tapi akan sangat – sangat rugi kalau tau cerita ini hanya dari cerita tanpa membacanya sendiri. Lebih enak lagi baca dari buku sendiri, bukan pinjam. 😀

Sejujurnya, saya mulai mengenal karya Ika Natassa justru dari karya novel metropop ketiganya, Antologi Rasa. A Very Yuppy Wedding debut pertama Ika dalam menulis novel metropop. Divortiare sebagai karya kedua. Dan Antologi Rasa sebagai karya terbarunya. Sebenarnya masih ada lagi buku berbahasa inggris, Underground. Saat membaca Antologi Rasa saya langsung jatuh cinta pada gaya bertutur Ika yang cerdas dan beda. Maka untuk jatuh cinta pada novel Divortiare bukanlah hal yang mustahil untuk saya. Bahkan saya sangat sangat sangat jatuh cinta pada Divortiare, lebih dari kekaguman saya pada Antologi Rasa.

Divortiare sebenarnya sama dengan novel metropop kebanyakan. Menghadirkan tema kisah cinta kaum urban dibalut sekelumit problematika pekerjaan, persahabatan, gaya hidup, dan cinta saling silang. Yang menarik, keberanian Ika mengangkat cerita tentang kehidupan pasca perceraian. Bagaimana ia survive dengan status janda di tengah paradigma sebagian besar masyarakat yang masih memandang ‘janda’ dengan sebelah mata. Bagaimana ia menata hatinya meraih masa depan dengan harapan baru. Bagaimana ia mengolah pengalaman masa lalunya dengan cara dewasa. Divortiare hadir dengan tema sedikit berat itu namun sangat renyah mengalir. Pambaca diajak penulis yang juga seorang bankir itu untuk tidak menghakimi. Sedikit demi sedikit pembaca digiring untuk mengerti, mendalami dan memahami keputusan mereka untuk bercerai, sekaligus berharap seiring berjalannya waktu, mereka akan menyadari bahwa cinta itu bukan tentang menemukan sosok sempurna sesuai bayangan kita, tapi cinta adalah bagaimana menciptakan suatu hubungan yang sempurna sesuai dengan seharusnya.

Ika sangat konsisten mengembangkan kisah ini. Setiap scene di eksekusi dengan dewasa dan nyata. Tidak ada dramatisasi. Tidak ada impian muluk – muluk. Dan endingnya bikin kita tarik nafas dalam – dalam saking gemas.

Ah, sepertinya saya yang mulai mendramatisasi yah hehehe…tapi serius buku ini sangat recommended untuk pecinta kisah – kisah metropop yang bosan dengan kisah too-good-to-be-true.

Meski suka dengan keseluruhan cerita dan setiap detailnya, tentu saja saya punya bagian – bagian favorit dari buku ini.

Inilah scene – scene / bagian – bagian favorit saya itu:

1. Saat Beno memeriksa Alex yang hampir pingsan, lalu berkata “Belum bisa lupain aku, yah?” sambil menunjuk tatto namanya di dada kiri Alex.

2. Alex dan Beno bertemu di rumah Kebagusan saat akan menjual property bersama terakhir mereka itu. Obrolah Beno – Alex tentang kasus pasien Beno, juga cara Alex marah karena Beno banyak mengkonsumsi Mie Cup instan menunjukan chemistry mereka yang kuat meski sudah bercerai.

3. Saat pertama kalinya Beno bertanya tentang Denny pada Alex (Beno mengantar Alex ke apartemen setelah mengantar Alex memeriksakan diri karena keseleo). Gaya Beno yang sok cool padahal cemburu, dan cara Alex yang marah pada Wina karena membocorkan tentang Denny pada Beno menunjukan mereka masih saling mencintai.

4. Malam takbiran, Alex yang baru akan pulang setelah menjenguk Wina yang melahirkan tanpa sengaja bertemu Beno di lorong rumah sakit setelah delapan bulan putus kontak. Inilah scene yang bikin super gemas itu 😀

Ada yang menjadi favorit, tentu ada juga yang kurang menyenangkan donk. Yup, diantaranya adalah:

1. Beberapa kalimat percakapan yang terdengar janggal sampai2 saya harus beberapa kali mengulang. Sepertinya penulis lebih comfort berbahasa inggris nih. Tapi itu tidak terlalu mengganggu kok.

2. Penulis terlalu terburu – buru mengakhiri cerita. Rasanya akan lebih greget kalau proses putusnya Alex – Denny lebih dramatis dan kejadian2 setelah itu lebih diberi ruang bercerita. Ah, tapi ini pun tidak mengurangi esensi ceritanya sih.

Oh iya, yang bikin saya berlipat – lipat gemas dan nggak sabar adalah karena Ika akan melanjutkan kisah Alex – Beno ini dalam sekuelnya, Twivortiare, yang akan terbit tahun depan. Akankah Alex dan Beno kembali bersama dengan konsep hubungan yang lebih baik? Atau justru menemukan jalan bahagianya masing – masing.

So, jangan sampai melewatkan Twivortiare juga. Sering – sering ngecek daftar rilis buku baru, yah!

Salaams & Blessings,

@hubsche_petty

Advertisements

2 thoughts on “Book Review : DIVORTIARE by Ika Natassa

  1. Youre so cool! I dont suppose Ive learn anything like this before. So nice to find any person with some authentic thoughts on this subject. realy thank you for starting this up. this website is something that is wanted on the internet, someone with a little bit originality. useful job for bringing something new to the web! 219047

  2. Whoaaa sangat tergila2 dgn novel ini.. Eh tnyta dokter spesialis jantung suamiku nama blakangnya wicaksono.
    Orgnya dah berumur tp masih nampak kegantengannya wkwkwkwk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s