CINTA JODOHKU

Hai..

Membaca judulnya jangan buru – buru berfikir ini adalah tulisan yang berat nan romantis tentang cinta. Ini hanya sekedar catatan dari apa yang saya dengar, rasa, dan pikirkan tentang kegelisahan mengenai cinta dan jodoh. Bukan sepenuhnya pengalaman pribadi saya. Justru belakangan ini, bahasan cinta dan jodoh ini banyak saya dengar dari curhatan teman. Apalagi setelah momen Lebaran (Idul Fitri) seperti sekarang ini, dimana sebagian besar dari mereka yang sudah cukup dewasa merasa terusik dengan pertanyaan – pertanyaan dari keluarga besar yang serupa yaitu “Kapan nikah?”. Mungkin tidak akan terlalu mengganggu ketika hati (baca: cinta) sudah mantap menentukan pilihannya. Eh, bukan cuma hati deh! Dan takdir pun merestui kehendak hati. Loh, beda yah? Jelas berbeda!  Apa yang membedakan CINTA dengan JODOH ?

Beberapa curhatan yang pernah mampir pada saya :

Gue cinta mati sama dia. Dia laki – laki yang paling mampu menghidupkan hati gue. Gak ada yang namanya bosan sama kalau sama dia. Nikah sama dia? Gak mungkin, beda agama!” -Cewek, 23 Tahun-

Dia tuh cinta pertama gue. Hati gue berdebar cuma sama dia. Tapi memilih dia jadi suami, terus terang gue takut…” -Cewek 25 Tahun-

Gue bakal nikahin dia. Meskipun gue gak bahagia, yang penting orang2 terdekat gue happy.” -Cowok, 28 Tahun-

Buat gue yang penting kita bisa sama-sama terus. Urusan masa depan gimana nanti aja deh.” -Cewek 22 Tahun-

 

Lihatlah betapa masih begitu banyak kebahagiaan terhadang karena masih banyak yang kesulitan ‘mengawinkan’ antara perasaan cinta dengan ketentuan jodoh. Bahkan tidak sedikit yang bingung membedakannya.

Cinta itu soal hasrat, sedangkan jodoh adalah pilihan. Banyak orang mengaku mereka pada akhirnya memilih yang bukan paling mereka cintai sebagai jodohnya. Banyak cinta yang berhasil menyentuh dinding hati terdalam dan sekian lama mengendap disana, justru tak bisa dibawa melaju jauh dan langgeng. Si pengukir hati malah seringkali jadi si pemetik air mata luka. Karena terkadang cinta membawa kita pada keliaran emosi yang tak sejalan dengan rumus sosok pilihan ideal tentang pendamping seumur hidup.

Cinta yang bermagnit pada akhirnya sering hanya jadi bagian dari sejarah asmara. Tercipta hanya untuk jadi memori indah nan abadi, tapi tak cukup kuat diayuh menjalani kehidupan nyata. Sensasi perasaan yang sering kita sebut ‘cinta mati’ kerap bersemburat drama yang kobaran api rindunya terus membayangi dan menancap kuat sampai kapanpun, tapi sangat menakutkan untuk dilanjutkan. Karena hidup tak sekedar mengejar sensasi emosi.

Itulah sebabnya ada nasihat, kalau kita mencintai seseorang, cinta mati padanya, jangan diumbar emosi asmaranya. Sebab akan membunuh kemungkinan untuk berlanjut ke pernikahan.

Cinta memang butuh getaran kuat yang mendebarkan. Tapi dalam mengarungi kehidupan dengan segala kompleksitasnya, ketenangan yang mendamaikan lebih dibutuhkan, sehingga tanpa sadar pikiran menggiring pada keputusan memilih jodoh yang memberi kepastian perasaan. Bohong kalau memilih pasangan hidup tanpa pertimbangan. Yang terpilih sebagai jodoh akhirnya cinta yang normatif, lurus – lurus saja, tidak banyak sensasi drama namun aman untuk masa depan. Disinilah cinta akhirnya bertarung dengan logika.

Pada saat sudah memilihnya menjadi jodoh, baiknya jodoh itu dijadikan cinta yang utuh. Tinggalkan cinta yang lain. Jangan terus menyakiti hati. Karena tidak ada yang lebih sakit  daripada memutuskan hubungan tanpa menyudahi cinta. Status berpisah, tapi hati masih saja gelisah. Hubungan bubar, namun hati masih saja berdebar :p

Cinta dengan keindahan utuh adalah cinta yang tak banyak menuntut selain debar cinta itu sendiri. Yang membuat cinta sempurna adalah ketika dua hati menghadirkan syukur, sabar dan sederhana diantara mereka. Karena disanalah kebahagiaan akan tumbuh, dalam hati yang lapang, tempat dimana hidup dipercayakan. Saat kita mensyukuri jodoh disamping kita, salah satu bentuknya adalah dengan tidak mempermasalahkan hal – hal sepele tentang ketidakpuasan kita, tentang tidak terpenuhinya hal – hal yang kita anggap ideal.

Saya pernah begitu tersentuh membaca sebuah ungkapan yang tertulis dalam sebuah buku (kalau tidak salah judulnya ‘Cinta yang Terlambat’).

Kira – kira begini bunyinya :

Jika setiap orang berharap agar dapat menikah dengan orang yang dicintainya. Doaku sedikit berbeda. Aku berdoa agar aku dapat mencintai orang yang menikah denganku.”

Sesaat setelah membacanya saya begitu tertegun, saya membayangkan betapa indahnya jika setiap orang dapat berfikir hal yang sama. Memiliki keikhlasan dan ketulusan dalam menerima jodoh yang dikirimkan Allah untuknya. Dalam doanya dia berharap agar dapat mencintai (siapapun) yang menjadi jodohnya.

 

[1] Maka dari itu, cintailah jodoh yang Allah pilihkan untukmu. Dan yakinlah saat Allah memilihkan seseorang sebagai jodohmu, Allah pun akan mengilhamkan cinta kedalam hatimu. Buka hatimu lebar – lebar untuk menerimanya. Cinta yang diilhamkan Allah berupa jodoh adalah ketika kita tidak memerlukan alasan apapun untuk merindukannya setiap saat, ketika chemistry sama – sama bergetar saat saling berinteraksi, tidak ada yang memaksa dan dipaksakan, tidak ada gengsi dan menghitung untung dan rugi. Yang ada hanya 3S : SYUKUR, SABAR, SEDERHANA.

🙂 🙂 🙂

 

 

Yang juga berharap dapat mencintai setulus hati jodohnya,

@hubsche_petty


 

[1] Note to My Self too 😀

Advertisements

4 thoughts on “CINTA JODOHKU

  1. mantap pet…. sesungguhnya mencintai itu ga semestinya memiliki. Kdg2 kita wanita menunggu reaksi org yg kita cintai tuk membuktikan cintanya terhadap kita. Namun ada juga cowok yg telat yg ga serius perlakuannya kayak syg sm kita tp reaksinya sering nyakitin hati gitu. Apa maksudnya dia ya? Mencintai apa engga? namun di saat wanita itu tlah membuat keputusan tuk menerima lamaran org lain dia dtg dgn seribu harapan dan perasaan bahwa dia cinta mati sm wanita itu.. hanya wanita itu yg bisa fahami dia.. nahhh… langsung g mana si wanita mungkin berpaling dr nyakittin hati org yg baik sm dia?? Hanya doa dan pengharapam agar kelahiran di masa depan aja moga mereka bisa disatukan. Insyaallah… sesungguhnya jodoh itu di tgn Allah.. namun jgn pula kita meremehkan apa yg udh ada di dpn mata hanya semata kerna “andai dia jodohku, pasti berjodoh”!

    • Makasih komen positifnya 🙂

      Pernah dengar ungkapan spt ini? : “Men are like wines, they need time to mature”.
      As I know, Itulah laki2. Bukan hanya lambat menjadi dewasa, tp lambat dlm mengambil keputusan dan bertindak dlm cinta dan semua yg berhubungan dgn harga dirinya. Mrk cenderung utk tunduk pd default-setting utk selalu self-centered, melihat hanya dr kacamata kepentingan sendiri. Jgn pernah brhrp mrk akan menurunkan egonya, krn akhirnya perempuan yg akan sakit hati. Laki2 itu jgn dilawan, tp ditawan dgn kasih yg melimpah sampai dia ‘terjebak’ sendiri.
      Tentang sikap yg menyakiti hati…itu hanya soal bagaimana kita menyikapi, menanggapi. Hati yg cengeng tentu sedikit-sedikit akan melihatnya sbg rasa sakit hati. Tp hati yg lapang krn cinta yg luas dan besar akan penuh pengertian. Dan itu lebih sehat utk hati. Trust me! And you can win his heart, totally! Meskipun sbg perempuan tetap hrs punya sikap tegas sesuai derajatnya, tidak terlalu percaya diri, dan bermuhasabah ke dalam diri sendiri.
      Kecewa lantaran tidak berjodoh itu manusiawi, tapi akan mengajari kita utk mengerti bhw cinta memang tidak selalu memberi kemenangan, walau tidak juga mengalahkan. Tidak ada cinta mati. Cinta itu selalu menghidupkan dan mendewasakan, paling tidak kenangannya.

      Salam cinta,
      Petty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s