A Short Letter for a Man Called Nothing

Dear lelaki,

Kita mungkin tidak saling mengenal sebagai teman.

Pun tidak dipaut pertalian darah.

Kamu dan aku juga tidak terikat satu semangat kesukuan yang sama. Bahkan kamu dan aku, kuyakini akan berada di dua sisi bersebrangan dalam melihat banyak hal.

Tapi ada yang sangat ingin kusampaikan padamu.

Meski kamu tak ingin tahu, biarkan aku mengatakannya.

Kuceritakan dulu tentang seseorang padamu.

Sama sepertimu, dia pun seorang lelaki.

Kamu tampan, menurutku dia lebih tampan darimu…meski tak pernah ia sadari.

Kamu lembut, dia pun hatinya begitu halus…meski terkadang kelembutan banyak merugikannya.

Kamu baik, dia sangat baik budinya, penyayang, dan rendah hati…sampai siapapun tak mungkin tak mencintainya.

Sebagai manusia kamu pernah berbuat dosa, yaa…sama dia pun mungkin seorang pendosa.

Sebagai lelaki kamu pernah menghancurkan hati perempuan, yaa…dia pun sama, bahkan mungkin dengan jumlah yang jauh lebih banyak darimu.

Namun satu hal yang kulihat dengan jelas berbeda diantara kamu dan dia.

Dia tidak memukul orang yang tanpa perlawanan.

Dia tidak mendorong orang yang tak melihat.

Dia tidak membodohi orang yang tidak sadar.

Dia lelaki sejati!

Kamu tahu wahai lelaki?

Kamu mungkin terhormat, tapi kamu secara perlahan membuangnya.

Ia tidak lakukan itu.

Lelaki tampan itu tidak membiarkan kehormatannya hilang lebih banyak lagi.

Dia berusaha mempertahankan nuraninya agar tetap bertahta ditempatnya.

Tak ia biarkan akal warasnya jatuh tersungkur di bawah kaki seperti punyamu.

Hai kamu lelaki,

Dimataku kamu sangat memalukan!

Kamu pencundang berselendang jawara! Selendangmu hanya simbol, kamu tahu!

Ayolah…..

Kamu tenggelamkan kapal yang sudah bocor dimana-mana dan hampir karam.

Kamu hempaskan pembalap yang mobilnya kehilangan pedal gas.

Kamu tetap hajar petinju tua renta yang sudah berdarah-darah.

Sungguh, kamu sangat-sangat memalukan!

Lebih memalukan darimu,

Kamu berikan penderitaan yang mungkin saja akan ditanggung seumur hidup oleh orang-orang yang berada di alam bawah sadarnya, lalu kamu dengan bangga seakan telah kamu taklukan himalaya.

Kamu mengatakan kamu lelaki bertanggung jawab. Berapa lama kamu akan menanggungnya? Setahun? Sewindu? Seabad?

Bahkan menurutku seharusnya kamu menanggungnya hingga rohmu pun berada di alam yang berbeda!

Terus terang, aku sangat berharap Tuhan tidak menerima permohonan taubat mu kapanpun itu.

Oh iya lelaki, tahukah kamu…..

Wajahmu tidak cukup tampan untuk memenangkan hati seorang gadis cantik.

Mungkin kata-katamu pun terdengar jauh lebih buruk dibanding ocehan penjual obat di pasar becek.

Tuhan memang tidak memberikanmu bakat istimewa yang diturunkan pada sebagian lelaki.

Dan sekarang aku begitu mengerti kenapa Tuhan tidak memberikannya kepadamu. Karena ternyata Tuhan pun tidak yakin akan keaslian ciptaanNya yang satu ini.

Hahahaha…..

Kamu tahu lelaki, anak kecil pun akan memberimu label banci.

Namun setidaknya-maaf kukatakan ini-Tuhan memberikan iblis yang sangat besar untuk menutupi semua kebodohan dan ketololanmu.

Eh lelaki,

Aku melihat begitu banyak lelaki pendosa yang hebat, namun satu hal yang membedakan mereka dengan lelaki sepertimu adalah…mereka semua memiliki kehormatan dan kesempurnaan khususnya masing-masing.

Tapi kamu tidak dan tidak akan pernah seperti mereka.

Apalagi seperti lelaki tampan yang kuceritakan padamu.

Tahu kamu kenapa?

Karena kamu bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa, banci!

Sekian.

Note: Maaf ya lelaki, jangan marah kalau suratku terlalu panjang untuk sebuah surat pendek. Karena ketika kamu marah, kamu terlihat konyol, idiot dan tak berotak. Ups! Demikian suratku :p

@hubsche_petty

Advertisements

2 thoughts on “A Short Letter for a Man Called Nothing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s