Cerpen: CINTA (BELUM) MATI

Satu senin terlewat begitu saja. Satu hari tanpa melakukan apa-apa. Malam sudah hampir mencapai puncaknya. Winda duduk menatap TV yang terpasang di dinding di kamarnya yang mewah dan luas. Wallpaper dan tirai yang indah tersembunyi dalam bayang-bayang kesuraman. Winda merasa malam itu sangat panas, keringat mengucur di tubuhnya. Padahal diluar hujan turun sejak pagi,dan di dalam kamarnya embusan AC begitu kencang.

Hari itu, Winda merasa seperti hari terburuk yang mengganggu ketenangannya. Bukankah sesaat lagi, tinggal beberapa jam, ia akan mencapai kebahagiaan keduanya di minggu itu. Kemarin ia dan kekasihnya Aditya secara lancar dan khidmat baru saja melewati prosesi lamaran tak terduga. Dan besok, bahkan tidak lebih dari dua jam lagi, ia akan mencapai usianya yang baru di hari ulang tahunnya. Dan ulang tahun selalu menjadi hari istimewa.

Seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamar.

“Winda…Winda”

“Iya ma…masuk aja. Aku belum tidur,” sahut Winda tak sedikit pun beranjak ke arah pintu.

Mama masuk kedalam kamar. Wajah perempuan hampir setengah baya itu menyiratkan kecemasan melihat keadaan putrinya. Namun tak ia tampakkan kecemasan itu.

“Ada kado buat kamu nih Win,” mama menyodorkan sebuah bungkusan cukup besar pada Winda.

“Kado sekarang? Rajin banget yang kasih. Dari siapa ma?”

“Dari Dimas,” ujar mama enteng sambil tersenyum tipis. “Barusan dia kesini, tapi cuma titip ini buat kamu. Mama suruh masuk nggak mau.”

Winda memandang mamanya dengan ekspresi sulit dibaca. Kaget luar biasa, tapi senyum tipis dibibir cukup menyiratkan bahagianya.

“Udah buka aja. Jangan bengong terus…”

“Oh iya jangan tidur terlalu malam Win. Besok kamu harus ke kantor kan. Sholat isya jangan lupa ya sayang ya,” mama menyentuh lembut pipi Winda sesaat sebelum ia keluar dari kamar.

Winda memandangi kado pertama di ulang tahunnya. Kejutan yang berlipat-lipat. Winda tidak menyangka Dimas masih saja memberinya perhatian. Dimas juga jadi orang pertama yang memberinya kado. Dan lebih mengejutkan lagi Dimas mengantarkannya sendiri ke rumah meski tanpa menemuinya.

Winda memulainya dengan membuka kartu yang menempel di atas kado. Sebuah kartu berwarna hijau begitu manis terlihat. Degup jantung Winda mulai kencang seiring ia mulai membaca tulisannya. Kecemasan yang ditahannya selama beberapa jam akhirnya mendera perasaannya.

Dear Winda,

You came and I was longing for you
Your love always made me tremble
But once again..
You shook my heart like a wind falling the oaks on a mountain
You cooled my heart which was burning with desire
And now…the bitter-sweet irresistible creature

-Dimas-

Cukup! Hanya itu kalimat yang terangkai disana. Tak ada ucapan atau pun doa untuk ulang tahunnya. Begitu marah nya kah Dimas.

Winda tertegun. Dadanya bergemuruh, seolah ia dapat mendengar detak jantungnya yang kencang. Meski sakit, Winda lebih dari mengerti mengapa Dimas mengungkapkan itu dalam kartunya.

Maafkan aku Dim…maafkan aku! Semoga Allah akan memberiku waktu, meski sedikit, untuk bilang sama kamuhatiku lebih pedih. Winda bergumam dalam hati.

DUA HARI SEBELUMNYA

Grand Indonesia Shopping Town pada sabtu sore yang cerah. Orang lalu-lalang berpasang-pasangan. Sepasang laki-laki dan perempuan dengan senyuman yang mengembang di wajah memasuki sebuah restoran Thailand yang tidak terlalu ramai. Pasangan yang semesra pasangan kekasih itu akan membuat iri siapapun. Si pria tampan menawan. Sedangkan si perempuan begitu cantik nan anggun.

Mereka memilih tempat duduk di salah satu pojok yang agak temaram. Jam bergerak menit ke detik. Sudah lebih dari setengah jam pasangan itu saling berbagi tawa dan kehangatan. Mereka terlihat menyantap nasi goreng nanas, dan beberapa kudapan khas Thailand. Setelah selesai makan, si pria terlihat memesan secangkir kopi panas
untuk dirinya dan iced coffee jelly untuk sang kekasih. Tidak lama berselang pesanan mereka pun sudah terhidang.

I give my heart for you, Dimas.” Perempuan cantik bernama Winda itu
menyuapkan sebuah jelly berbentuk hati pada kekasih tampannya,
disambut senyum sumringah bahagia.
“Berarti sekarang kamu punya aku,” ujar si tampan manja dengan yakin dan mantap.

Winda mulai menunduk. Air mukanya muram. Wajahnya menyimpan sebuah pesan penting yang siap disampaikan.

“Kok lemes gitu sih reaksinya, sayang?” tanya Dimas, masih dengan sisa senyum bahagianya.

Setelah diam sekian saat, tiba-tiba dengan penuh kecemasan Winda bertanya, “Apa tidak sebaiknya kita akhiri aja hubungan ini?”

Dimas terkejut. Merasa ganjil dengan pertanyaan perempuan yang dikasihinya itu. Sejenak tak bisa menjawab, bahkan juga tak mampu bertanya. Dimas hanya diam, seolah bingung meski hanya untuk menyusun kalimat pendek.

“Persoalannya bukan pada kamu,tapi aku,” lanjut Winda lagi. “Karena aku terlalu pengecut.”

Untuk sekian lamanya, Dimas masih mematung. Sembari merangkai sejumlah kejadian selama ia kembali menjalin kedekatan dengan Winda; Apakah ia pernah berbuat salah? Menyakiti? Mengecewakan? Tak menghargai Winda? Rasanya Dimas tidak melakukan semua hal yang ada di daftar hitam sebuah hubungan itu.

“Kalau dilanjutin terus, aku takut kamu akan sakit hati, Dim,” dengan suara yang kini lebih lemah, Winda kembali melanjutkan.

Dan saat itulah Dimas baru tersadar, bahwa ada sesuatu yang besar yang menekan perasaan Winda. Adakah pacar Winda sudah mencium kedekatan mereka yang terjalin lagi belakangan ini.

“Aditya curiga..? Dia marah sama kamu? Sayang, aku minta maaf kamu harus lalui itu…pasti gak enak banget.” Dimas justru mencemaskan Winda. Ia tidak fokus pada permintaan Winda untuk berpisah.

“Dim….” Winda menghela nafas panjang.

“Kita akan lebih hati-hati sampai kamu siap…” belum selesai Dimas bicara, Winda membungkamnya dengan pemberitahuan menyakitkan.

“Ditya sama keluarganya besok mau dateng ke rumah,” pelan sekali suara Winda, nafasnya tertahan. “Mereka mau ngelamar aku.” Ia tuntaskan juga kalimatnya.

“Ngelamar?? Besok??? Apa sih maksud kamu? Apa Win?? ” Dimas tak lagi mampu berpura-pura bersikap ini bukan masalah besar. Ia mulai merasakan ketegangan yang amat sangat. Rasanya kopi di cangkir berubah menjadi panci besar berisi kopi mendidih. Ia ingin terjun ke dalamnya saat itu juga. Melepuh di lautan kopi pekat mendidih itu sebelum sempat mencicipi aroma dan rasanya. Nadinya seperti berenti berdenyut dalam hitungan detik. Dalam sekejap ia seperti kehilangan oksigen di kepalanya. Dimas benar-benar membeku, nyawanya seolah entah lenyap terbang kemana. Ia tak mampu mengendalikan diri untuk berpikir waras. Jangan dulu berpikir, berbicara pun ia tak sanggup.

Winda melanjutkan, pelan, tercekat, nyaris berbisik, “Aku minta maaf, Dim. Aku serba salah. Aku juga kaget kenapa tiba-tiba kayak gini. Mama juga kaget. Tapi aku juga nggak bisa cari alasan kuat buat bilang enggak…aku bingung Dim.” Panjang Winda mengungkapkan kebingungannya.

“Mungkin Ditya curiga sama aku, sama kita. Akhir-akhir ini dia…” Air mata Winda jatuh tanpa jeda. Pandangannya mulai samar-samar.

Kemudian Winda merasakan hangatnya tangan yang menyentuh tangannya. Ia mendengar bisikan malaikat, lembut dan lirih, “Aku ngerti Win. Aku akan mengerti.” Dimas berusaha meyakinkan dan menenangkan Winda yang terlihat mulai kacau.

“Dimas….”

“Winda…aku mengerti! Oke?”

Sejak awal ia menautkan kembali hatinya pada Winda, Dimas sadar sepenuhnya Winda tidak sedang sendiri. Masih ada Aditya di sisi Winda. Tapi saat itu Dimas tak kuasa menolak kehadiran perempuan itu dalam warna harinya. Semua terjadi begitu saja. Tanpa disadari, tanpa rencana, ia dan Winda sudah semakin dekat dan tak lagi dapat berbohong cinta lama kembali hadir  di hati mereka.

Ketika Winda dan Dimas mulai menjalin kedekatan lagi setahun setelah perpisahan mereka yang kedua, saat itu baik Dimas maupun Winda sedang menjalin hubungan dengan orang lain. Dimas dengan Claudia, dan Winda masih bersama Aditya. Winda menceritakan banyak beban hatinya pada Dimas, pengalaman spiritualnya. Dimas sebenarnya merasa itu adalah saat paling penting dalam hubungan mereka, pengalaman paling intim yang pernah dirasakannya. Winda mengizinkannya masuk ke dalam jiwanya, dan betapa indah jiwa itu. Kedalaman cinta Winda untuk dirinya membuatnya terharu, sangat terharu. Sejak itu Dimas tak lagi dapat melepaskan hatinya pada perempuan lain, dan mengantarkannya pada perpisahan dengan Claudia.

Namun ada kenyataan yang tidak mungkin dikesampingkan oleh nya. Kini saat Dimas harus menghadapi kenyataan itu, ia belum siap.

Diam. Hanya diam dan kebisuan yang terjalin diantara Dimas dan Winda. Keduanya larut dalam pemikiran sendiri. Sibuk menata hati dan pikiran yang kusut.

“Aku cuma mau bilang, kamu harus tahu…aku nggak melakukan ini untuk nyakitin kamu. Juga bukan karena aku terlalu cinta sama Ditya. Maksud aku, aku nggak menerima pertunangan ini semata-mata karena aku cinta sama Ditya. Kamu tahu Dim…karena kamu lebih dari sekedar cinta buat aku. Tapi, aku juga harus bersikap dewasa, bahwa kenyataannya Ditya memang nggak pantas menerima sikap egois aku yang mementingkan kebahagiaan aku sendiri. Dia baik sama aku.” Winda menggenggam tangan Dimas. Hangat seperti biasa. Ditatapnya mata Dimas yang berkaca – kaca.

“Apa aku jahat sama kamu…kalau aku minta kamu support aku?”
“Aku nggak akan bisa melangkah tanpa itu, Dim,” pinta Winda.

“Jangan khawatir soal aku. Kamu bisa tenang.” Dimas tersenyum.

“Kita pulang sekarang.” Ajak Dimas tetap lembut.

SEMINGGU SETELAH ULANG TAHUN WINDA

Winda berdiri di pintu di salah satu ruang kantornya. Pandangannya tertuju pada satu arah, satu sosok yang duduk disana. Ia memerhatikan. Ia mendengarkan. Dan, ia tersenyum. Dimas tidak tahu ada Winda disana. Ia menggumam. Ia tersenyum kecil. Ia serius dengan BlackBerry ditangannya. Adakah Dimas sedang membalas pesan-pesan yang masuk ke inbox message dan BBM[1] nya. Winda sangat ingin menyapa Dimas. Menanyakan kabar laki-laki itu. Satu minggu ini Dimas pasti akan menerima banyak pertanyaan dan pernyataan terkait pertunangan Winda. Dan satu lagi yang sangat ingin Winda lakukan, berterima kasih atas kado ulang tahun dari Dimas, meski sampai saat ini Winda belum juga berani membukanya.

Winda berlalu dari tempatnya. Ia tidak ingin mengusik mood Dimas yang sedang terlihat baik-baik saja. Winda kembali ke ruangannya. Terduduk dan membisu. Satu bayangan utuh, seribu kenangan panjang merangsek tak tertahan. Ia terlempar pada saat-saat lalu, beberapa tahun lalu. Saat ia mulai jatuh cinta pada Dimas.

zZz

Winda dan Dimas, dua orang asing yang dipertemukan project yang sama dari kantornya. Mereka bekerja di sebuah kantor advertising yang sama. Saat itu Winda yang lebih senior dari Dimas di kantor itu berkesempatan bekerjasama dalam satu tim untuk pertama kalinya dengan Dimas yang karirnya sedang menanjak. Winda lebih muda dari Dimas. Semua orang menyambut baik kerjasama pertama mereka, dan menganggap kolaborasi mereka akan menghasilkan sesuatu yang besar. Dan benar saja, Winda dan Dimas berhasil membangun tim yang solid. Hasil kerja mereka tak terbantahkan. Semua orang mengagumi hasil kerjasama mereka.

Semulus dan seindah kerjasama mereka dalam perkerjaan, kenyataan lain Winda dan Dimas bertransformasi menjadi pasangan kekasih yang manis dan sarat cinta membara. Tak ada yang bisa mengelak bahwa panah cinta sudah begitu dalam menancap di relung hati keduanya. Aura cinta itu segera diketahui orang-orang di sekeliling mereka. Semua orang ikut berbahagia untuk mereka. Bahkan tidak sedikit yang menasbihkan mereka menjadi pasangan paling serasi.

Winda yang cantik, ceria, pekerja keras, berkarakter kuat, serius dalam segala hal meski usianya terbilang muda meluluhkan hati Dimas yang tampan, easy going, humoris, dan sedikit cuek. Winda begitu terpikat pada ketulusan dan perhatian Dimas. Bukan hanya padan Winda, Dimas adalah pribadi yang down to earth dan sangat humble. Tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk saling mengagumi, cocok satu sama lain, merasa nyaman, tersengat getar cinta dan akhirnya benar-benar jatuh cinta.

Seperti banyak pasangan lain, dengan berjalannya waktu, menjadi marah, mendebatkan pendapat, dan mencapai kesepakatan-kesepakatan kecil maupun besar telah menjadi sesuatu yang rutin untuk dilewati. Hal-hal seperti itu terlihat wajar bagi setiap pasangan. Dua pribadi yang terlalu mencintai satu sama lain, justru lebih mudah tersulut emosi dan kecemburuan tak berlatar kuat. Begitu pun pada Winda dan Dimas, sampai akhirnya mereka mengalami gejolak emosi yang besar karena kesalahpahaman, dan tanpa berpikir dalam memutuskan berpisah.

Sekian waktu berlalu, namun perpisahan tak seperti dugaan mereka, tak mampu memberi kebahagiaan lebih dari pada saat mereka masih merangkai hari bersama-sama. Juga tak jua mampu memadamkan gelora cinta dalam hati mereka. Hati dan pikiran mereka rupanya sama-sama sepakat, bahwa mereka telah sama-sama salah dalam mengartikan cinta dan kemarahan. Mereka mengira perubahan berjalan bersamaan dengan kedewasaan, begitupun perubahan rasa cinta. Tetapi pada akhirnya, sudah begitu banyak awan beranjak dan berlalu, Winda dan Dimas melihat banyak masa depan, namun hati tetap disana tak beranjak sedikitpun. Yang ada justru semakin kokoh dan mengakar. Maka yang terjadi kemudian, kebersamaan itu bertaut kembali berselang hanya dua bulan sejak mereka berpisah.

Banyak orang iri pada kemesraan mereka, gairah mereka, kehidupan mereka, dan komitmen cinta mereka. Karena pada saat itu semua orang terdekat mereka tahu, Winda dan Dimas memiliki sesuatu yang lebih berharga dari apapun di dunia ini, yaitu komitmen…ya, komitmen mereka: untuk saling mencintai dengan sepenuhnya, seutuhnya, sedalam-dalamnya, dan selama mereka bisa mengusahakannya.

Sampai kemudian badai ujian cinta itu kembali meluluh-lantakkan benteng pertahanan ego mereka. Kecurigaan, salah pengertian, komunikasi yang tak berimbang, emosi usia muda, sekali lagi membawa mereka pada keputusan cepat tanpa toleransi panjang untuk bertahan. Winda memutuskan hubungannya dengan Dimas, dan dalam emosi tak terkontrol Dimas menyambutnya.

“Aku tuh capek kayak gini terus. Kamu tuh emang gak pernah bisa bener-bener ngerti perasaan aku Dim,” teriak Winda lantang dan keras.

“Apa aku gak salah denger? Kamu tuh yang gak pernah bisa ngerti aku. Kamu selalu curiga sama aku, nuduh aku yang enggak-enggak. Please Win aku harap kamu bisa sedikit dewasa ngadepinnya.” Dimas tak kalah keras.

Tak ada yang mau mengalah, yang terjadi justru saling menyalahkan. Pertengkaran hebat yang terjadi di Lombok itu menjadi jalan menuju kehancuran romantis. Sekali lagi Winda putus dari Dimas. Keduanya terluka dengan kejadian itu. Terlebih orang-orang yang menyayangi mereka begitu menyayangkan perpisahan mereka.

Apa yang dipersiapkan kehidupan untuk masa depan manusia, tidak pernah dapat ditebak secara pasti arahnya. Tidak dalam jeda yang panjang, Dimas akhirnya mendengar, melihat, mengetahui, ada seseorang lain yang telah menggantikan posisinya sebagai orang terdekat Winda. Dia adalah Aditya. Dimas tidak tahu secara pasti kapan segalanya berubah. Yang ia rasakan hanya kekecewaan yang besar, juga rasa sakit yang teramat sangat. Dimas masih mencintai Winda.

Tapi hidup tidak mungkin menunggu, meski air mata mencoba menahannya. Dimas mencoba melanjutkan hidup. Pribadinya yang supel banyak membantunya menyembuhkan luka hati. Sampai kemudian ia menemukan seseorang yang cukup membuatnya kagum dan memberi rasa nyaman. Dimas pun memulai hari-hari ceria barunya dengan Claudia.

Deringan suara telepon menghentikan lamunan Winda seketika.

“Win, aku udah didepan kantor kamu nih. Kamu udah mau pulang kan?” Aditya menelepon, mengejutkan Winda dengan tiba-tiba menjemput ke kantor.

zZz

Winda duduk di dekat sebuah meja cukup besar di kamarnya. Bayangan wajah Dimas yang dilihatnya tadi siang di kantor menerornya terus-menerus. Jantungnya tidak berhenti berdebar – debar selama tiga puluh menit. Ia pandangi lekat bingkisan pemberian Dimas, menebak-nebak apa isi didalamnya. Sambil menahan nafas, Winda memberanikan diri mulai membuka kertas kadonya. Sebuah kotak besar. Ia buka kotak itu. Sebuah kotak lebih kecil yang terbungkus rapi ada didalamnya.

“Kotak lagi?” gumam Winda pelan. Lalu dengan gerakan lebih cepat Winda merobek lagi kertas kado kotak kedua, dan segera membuka kotaknya. Lagi-lagi ia hanya mendapati sebuah kotak yang lebih kecil terbungkus rapi yang ada di dalamnya. Merasa aneh, Winda semakin mengerutkan keningnya. Berkali-kali hanya kotak dan kotak yang ditemukan Winda dalam kado Dimas.

“Apa maksudnya ini…???” Winda mulai kesal. Setelah sepuluh kali merobek kertas kado dan membuka kotak, di kotak terakhir Winda menemukan sebuah kartu tanpa ada benda lain. Hanya kartu. Segera ia buka dan membacanya.

Aku gak tau kado apa yang pantas buat kamu sekarang, Win

Terlalu banyak yang ingin aku kasih sama kamu

Sangat banyak…sampai aku bingung

Aku berharap aku bisa punya kesempatan kasih semua itu sama kamu

Ijinkan aku untuk mencicilnya…seumur hidup aku

–      Dimas –

Winda tertegun, terguncang. Perasaannya begitu hancur. Ia sangat ingin berteriak memanggil Dimas dan mengatakan ia sangat mencintainya.

Winda sebenarnya mensyukuri semua kenyataan yang ada dalam hidupnya. Ibu dan adik-adik yang mencintainya. Ayah yang tetap memberinya kasih sayang meski tak lagi bersama. Pekerjaan yang sangat dicintainya. Sahabat yang selalu menghangatkan harinya. Dan Aditya, tunangan yang memujanya. Kasat mata melihat hampir tak ada yang kurang dari hidup Winda. Tapi lain yang dirasakan Winda. Saat ini, untuk sesaat saja, Winda ingin bersikap egois, mengabaikan dunianya. Dia akan sanggup menukar semua itu, seketika itu juga, dengan kualitas cinta Dimas. Meskipun tunangannya benar-benar setia dan memanjakannya, pria itu tidak memberinya pengalaman cinta.

Sudah tiga jam Winda hanya menangis. Winda benar-benar merasakan berada di titik kehancuran hatinya. Ia ingin menelepon Dimas. Menumpahkan semua perasaanya. Winda meraih BlackBerry-nya.

Messages

Compose email

To : Dimasku

Subject : Ini hatiku..

Dimas…

Bagaimana aku bisa mewujudkan cintaku padamu?

Tak ingin aku hitung berapa caranya..

Ijinkan aku menempuh semuanya..

Aku mencintaimu sedalam, seluas, dan setinggi-tingginya..

Hatiku selalu mampu meraihnya, ketika wujudku tak kuasa..

Aku mencintaimu setiap hari, tanpa beban, tanpa harapan..

Aku ingin mencintaimu dengan bebas..

Dalam kepedihanku yang lama, aku mencintaimu dengan dorongan seluruh kekuatanku..

Aku mencintaimu dengan cinta yang seolah hilang dariku..

Aku mengaku…aku mencintaimu sepenuh hati..

Aku mencintaimu dengan senyum, air mata, dan seluruh nafas..

Dan jika Allah menghendaki, aku akan semakin mencintaimu lebih dari selamanya..

yang tak pernah berhenti mencintaimu,

– Winda –

Option

Save Draft

…the end

By: @hubsche_petty

Note : Kehidupan tak selalu ramah pada cinta. Seringkali cinta dipaksa berjuang lebih lama. Bukan untuk menyerah. Hanya untuk belajar menghargai yang telah diberikan cinta. Kebahagiaan tidak memilih, tapi memutuskan.

*Seluruh cerita, karakter, kejadian, dan lokasi hanya fiktif.

Please, leave your comment! Thank you 🙂


[1] BlackBerry Messager

Advertisements

3 thoughts on “Cerpen: CINTA (BELUM) MATI

  1. Nah gitu dong… Dari dulu kek kaya gini… Bagus pet, comment selanjutanya lgsg aja ya pas ketemuan 🙂 mana novel buat gueeee???????

  2. Magnificent goods from you, man. I’ve understand your stuff previous to and
    you are just too magnificent. I actually like what you have acquired here, really like
    what you are stating and the way in which you say it. You make it enjoyable and you
    still take care of to keep it sensible. I
    can not wait to read far more from you. This is
    actually a tremendous web site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s